<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205</id><updated>2011-07-08T04:49:45.134-07:00</updated><category term='Perempuan dalam kebudayaan'/><category term='Sekulrisme'/><category term='feminis'/><title type='text'>PASTICHE</title><subtitle type='html'>"Dengan memahami keberadaan, kau memahami ketiadaan. itulah kekosongan" (Miyamoto Musashi)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-7046609480992026201</id><published>2009-11-09T00:53:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T00:56:02.113-08:00</updated><title type='text'>Indonesia Pascapancasila</title><content type='html'>Oleh : Noverius Laoli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Negara yang sudah mulai terkotak-kotak dan menonjolkan kekuatan sendiri-sendiri, suku, agama, ras dan antargolongan, (SARA) tinggal menunggu waktu menuju kehancuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak bangsa ini sangat rentan terhadap perpecahan. Pada awal berdirinya para founding fathers dengan susah payah merumuskan dasar Negara yang multikultural ini dengan satu alasan, supaya bangsa yang dibangun di atas fondasi keanekaragaman ini tetap kuat dan tegar bersatu menghadapi terjangan zaman. Tapi kini percecokan demi percecokan mulai menggurita. KPK dan pihak kepolisian yang seharusnya saling mendukung dalam menegakkan keadilan, justru asyik saling menyerang dan mempertontonkan kekuatan masing-masing. Bahkan yang satu merendahkan yang lain, tampak pada slogan baru “cicak melawan buaya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebatas Permukaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan di antara dua lembaga penegak hukum ini semakin jauh dari esensi yang sesungguhnya. Mereka tidak lagi memperkarakan kebenaran, melainkan mempertunjukkan kekuatan dan kekuasaan. Polisi menahan dua pimpinan KPK Chandra dan Bibit tanpa bukti yang jelas. Dukungan masyarakat luas semakin gencar terhadap kedua pimpinan KPK yang dianggap menjadi korban ketidakadilan. Tapi sampai di manakah dukungan itu bila reaksi yang dilakukan pemerintah hanya sebatas formalitas semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila yang didengungkan Soekarno sebagai ideologi pemersatu bangsa mulai pupus dan mati suri. Tidak heran jika Pancasila dijadikan instrumen untuk melanggengkan kekuasaan sebagaimana pernah terjadi pada masa Orde Baru. Ketika memasuki zaman reformasi yang mengusung tema perubahan total dalam segala lini kehidupan, khususnya memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme justru menjadi ajang pertarungan perebutan kekuasaan dan semakin memamahbiaknya para koruptor baru secara terang-bederang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi pascaordebaru ini pun menganggap pancasila sebagai isu purba dan tidak menarik lagi. Ada tendensi zaman ini melahirkan generasi apatis dan apolitis. Mereka tidak peduli lagi terhadap berbagai penyakit yang didera bangsa ini. Semuanya asyik mengemas identitas diri dan kelompoknya sendiri-sendiri. Gerakan-gerakan heroisme yang pernah ada di masa lalu yang melambangkan persatuan, seperti sumpah pemuda hanyalah sekadar nostalgia belaka. Sesungguhnya generasi ini sudah mulai alpa terhadap semua itu. Peristiwa-peristiwa masa lalu dianggap tidak lebih dari sekedar tontonan dan sarana mempertontokan permukaan daripada esensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gotong royong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Soekarno pancasila adalah “isi jiwa” bangsa Indonesia yang setelah berabad-abad terpendam bisu oleh Kebudayaan Barat. Pancasila digali dari budaya Indonesia prahindu-budha, sebelum budaya asli nusantara tercemar oleh agama-agama baru yang datang kemudian. Dan ternyata selama beradab-abad nenek moyang bangsa Indonesia telah terbiasa hidup bersama dan melestarikan budaya gotong royong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ke lima sila yang ada dalam pancasila mengandung unsur: ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kebangsaan, dan keadilan, bila diciutkan menjadi satu sila adalah gotong royong menurut Soekarno. Budaya gotong-royong ini jugalah yang telah menjadi fondasi berdirinya bangsa Indonesia. Ketika para pengagas bangsa ini menyadari pentingnya kesatuan untuk saling bahu membahu membangun sebuah bangsa di mana segala kepentingan pribadi dan kelompok ditampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kini idealisme pancasila  sebagai pemersatu anak bangsa sudah mulai memudar, bersamaan dengan berkembangnya hasrat untuk menonjolkan bendera kelompok daripada kepentingan bersama. Di saat kita sudah mulai menonjolkan kepentingan pribadi dan kelompok, di saat itu pula bangsa ini pun siap menuju perpecahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-7046609480992026201?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/7046609480992026201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=7046609480992026201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/7046609480992026201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/7046609480992026201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2009/11/indonesia-pascapancasila.html' title='Indonesia Pascapancasila'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-9217524655020533521</id><published>2009-07-09T20:44:00.001-07:00</published><updated>2009-07-09T20:54:05.401-07:00</updated><title type='text'>Berakhirnya Style dan Keunikan Individu:Telaah Atas Pemikiran Fredric Jameson</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Style dan keunikan individu adalah istilah yang mengalami dilema akhir-akhir ini. Di satu pihak, istilah ini kerap dianggap sebagai label modernitas, sudah kadaluwarsa, ciri khas zaman kuno, primitif, dan ketinggalan zaman. Di pihak lain, kenyataan bahwa istilah itu telah digandrungi oleh generasi muda zaman sekarang sebagai cara menunjukkan jati diri, atau dalam bahasa sekarang unjuk gigi atau gue banget. Dengan kata lain, style pribadi lebih identik dengan ekspresi diri, upaya menunjukkan kebolehan, dan cara mempertontonkan bahwa gue eksis, dan perlu diakui. Boleh jadi, dengan cara ini, generasi yang hidup pada zaman ini kembali menemukan identitas dirinya yang telah lama diguncang oleh gelombang budaya pencitraan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, gelombang kultur postmodernisme yang mengekspresikan logika kapitalisme multinasional begitu kuat memengaruhi personalitas masyarakat pada era ini. Dunia postmodern ini ditandai dengan berbagai pengaburan batas-batas dan mengantikannya dengan realitas ilusif dan simulakrum. Peradaban, kebudayaan, dan sistem berpikir manusia pun tak luput dari goncanganya. Akibatnya manusia sekarang hidup dalam kultur komoditas dan konsumerisme. Kultur kontemporer ini pun menciptakan masyarakat yang gila belanja dan mendapatkan barang-barang baru dari produk-produk teknologi yang semakin memesona itu. Maka tidak salah kalau dikatakan bahwa sebenarnya pada abad keduapuluh satu ini, kita hidup di suatu zaman yang memuja komoditas. Teknologi-teknologi supercanggih sepertinya ikut mendukung penyebarluasan logika kapitalisme baru ini. Di hampir setiap penjuru dunia, kita dapat menemukan beragam produk yang semakin baru. Tidak heran, bila pada zaman ini, logika kapitalisme baru itu berusaha menciptakan kultur homogenitas atau penyeragaman, di mana pluralitas individu, style dan keunikannya semakin terpojokkan. Artinya, manusia harus menyesuaikan diri dengan semua tuntutan teknologi baru ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi, karena posisi manusia sebagai subyek yang menciptakan semua ini semakin terpojok (dan harus menyesuaikan diri dengan hukum-hukum ciptaanya sendiri), maka abad ini disebut sebagai zaman “kematian subyek” (the death of subject). Ihwal inilah yang diterangkan oleh Jameson. Ia seolah menyadarkan kita bahwa di balik kultur kontemporer ini (yang sering disebut postmodernisme), ada logika yang mengendalikan kita yaitu kapitalisme. Kapitalisme baru ini ternyata tidak seperti zaman klasik, yang menunjukkan diri secara terang-terangan, dan lingkupnya terbatas. Tetapi kapitalisme zaman kontemporer ini bergerak di balik kesadaran kita dan memasuki wilayah yang lebih luas. Bahkan kapitalisme ini sifatnya multinasional, dan bergerak dengan bebas memasuki segala lini kehidupan masyarakat melalui iklan-iklan, TV, internet, serta media informasi lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, strategi baru kapitalisme ini berusaha membunuh kedirian manusia sebagai individu yang otonom. Ia mengaburkan konsep temporalitas sejarah dan dengan getol mengangkat konsep spasial. Dengan metode ini, ia berusaha mendekonstruksi peranan sejarah dan mengkondisikan hidup kita dalam spase kekinian. Artinya,, manusia dibuat asyik dengan masa kininya tanpa memikirkan masa depan serta masa lalunya. Seolah-olah masa sekarang melahirkan embrionya sendiri. Bersamaan dengan berjalannya waktu, masa lalu (sejarah) pun dianggap hanyalah ilusi-ilusi kosong dan tak berarti. Akibatnya manusia zaman ini hidup dalam dunia citra dan pastiche, yaitu meniru masa lalu tanpa intensi apa-apa dan akhirnya melahirkan masyarakat skizofrenik. Ciri khas masyarakat baru ini adalah masyarakat yang tidak memiliki kepribadian yang utuh dan hidup dalam dunia yang tidak real. Maka budaya ini pun ditandai dengan budaya perayaan euforia yang ganjil, dan tanpa kedalaman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Realitas inilah yang mau saya beberkan. Bagaimana perkembangan kultural yang baru ini (postmodernsime dan kapitalisme lanjut) telah mendiskreditkan manusia sebagai individu yang unik, dan memiliki style personal. Di sini saya akan memetakan pemikiran Jameson dan menganalisisnya dari perspektif filosofis, mulai dari gejala awal tumbangnya modernisme sampai pada lahirnya kultur postmodernisme. Kemudian saya menganalisis pemikiran Jameson tentang postmodernisme dan kaitannya dengan logika kapitalisme multinasional. Pada akhirnya mendeskripsikan akibatnya dalam diri manusia sebagai individu yang unik dan punya style personal, di mana keunikan dan style manusia sebagai individu semakin teralienasi di tengah gemerlapnya dunia kontemporer ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;By: Noverius Laoli &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-9217524655020533521?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/9217524655020533521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=9217524655020533521' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/9217524655020533521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/9217524655020533521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2009/07/berakhirnya-style-dan-keunikan-individu_09.html' title='Berakhirnya Style dan Keunikan Individu:Telaah Atas Pemikiran Fredric Jameson'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-334153814119050876</id><published>2009-07-09T20:44:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T20:45:14.533-07:00</updated><title type='text'>Berakhirnya Style dan Keunikan Individu:</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-334153814119050876?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/334153814119050876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=334153814119050876' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/334153814119050876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/334153814119050876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2009/07/berakhirnya-style-dan-keunikan-individu.html' title='Berakhirnya Style dan Keunikan Individu:'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-9211075532256386572</id><published>2009-01-17T22:36:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T23:03:10.885-08:00</updated><title type='text'>Perang Tak Pernah Menelurkan Kedamaian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Noverius Laoli&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perang tak pernah melahirkan kedamaian. Dalam perang terpatri unsur balas dendam. Pihak yang menang tak pernah merasa damai dan pihak yang kalah selalu berharap akan menang tinggal menunggu waktu saja. Sebab kekerasan yang dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Dan demikian seterusnya. Karena di dalam perang selalu ada unsur balas dendam. Perang hanyalah semacam ekspresi primitif manusia untuk menyatakan eksistensinya. Dengan eksistensi itu, manusia mampu melakukan apapun termasuk menguasai yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang lain dianggap sesuatu yang asing dan karena itu bertendensi mengancam.  Sebelum terancam jauh lebih baik dan masuk akal bila mengancam terlebih dahulu. Hal itulah kiranya yang dialami Israel dan Palestina sekarang ini. Di dalam logika mereka yang lain adalah ancaman dan karena itu perlu dibasmi dengan kekuatan super hebat. Segala teori mengenai hak asasi, etika, moral dan agama dengan segera disingkirkan. Seolah manusia itu dijadikan hanya seonggok daging buas yang setiap saat menerkam. Manusia tanpa hati dan nurani jelas sekali terlihat dalam perang ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah seseorang itu bersalah atau tidak, dalam perang kurang diperhitungkan. Dalam menyerang lawan segala risiko dijadikan pelengkap dan kurang penting. Namun adakah yang mampu melihat betapa sakit dan ngerinya kehilangan nyawa. Tampaknya manusia-manusia korban perang hanya dilihat sebagai angka semata. Akan tetapi bila suatu saat, orang yang kita kasihi meninggal dunia barulah kita dapat merasakan betapa sakitnya kehilangan saudara. Dan itulah yang dialami mereka yang sekarang sedang mengobarkan perang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dibalik semua itu, pernahkah orang berpikir bahwa perang hanyalah untuk memenuhi kepentingan segelintir manusia. Mungkin mereka lagi sedang beruntung berada di posisi yang tepat untuk memerintahkan perang. Jika demikian, begitu buaskah manusia itu. Maka tidak salah ungkapan Thomas Hobbes yang menyatakan bahwa "Manusia adalah serigala bagi sesamanya" (Homo homini lupus). Sebab bila manusia mendapat kekuasaan kecenderungan untuk berbuat  kekerasan pasti ada. Karena manusia tak pernah "puas" dengan apa yang mereka dapat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masalah kepuasan ini juga ikut menjadi salah satu faktor penyebab perang dan kekerasan. Itulah sebabnya, dalam perang manusia tak pernah memedulikan hak asasi manusia dan etika serta moralitas yang telah diukir dengan kata-kata indah dari setiap zaman. Rentetan perang akan terus terjadi jika manusia tidak pernah mencoba puas dengan yang ia dapat. Kecenderungan untuk tidak mau rugi dan dilecehkan adalah problem tersendiri dalam perang. Perang tak pernah berakhir bila manusia tidak rela untuk berbagi dan bersedia untuk rugi demi kebaikan bersama. Kalau tidak maka kita akan melihat lagi berlimpah mayat korban perang lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-9211075532256386572?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/9211075532256386572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=9211075532256386572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/9211075532256386572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/9211075532256386572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2009/01/perang-tak-pernah-menelurkan-kedamaian.html' title='Perang Tak Pernah Menelurkan Kedamaian'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-762950474805083405</id><published>2008-12-21T18:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T18:33:31.048-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Manusia Mencari Tuhan</title><content type='html'>Noverius Laoli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman mutakhir ini, masih saja ada orang yang mencari Tuhan, meskipun hidup dalam hirupikuk kemajuan teknologi yang super-canggih. Ternyata manusia zaman ini masih membuka ruang hatinya untuk kehadiran Tuhan. Hanya saja paham tentang Tuhan dan cara memahaminya berbeda. Bila di abad silam Tuhan dicari di tempat-tempat sakral (Sinagoga, Gereja, Mesjid dan kuil-kuil), zaman sekarang, Tuhan dicari melalui kecanggihan alat tekonologi. Para astronot menembus ruang angkasa, dan mengagumi begitu indahnya alam semesta ini dan sekaligus mempertanyakan kembali keberadaan Tuhan itu. Akan tetapi, sebaliknya di abad 20-21 ini, kebangkitan agama-agama mulai menyeruak di segala penjuru. Justru disaat Tuhan kembali dipertanyakan, disaat itulah manusia mulai merindukan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God Spot&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, kita melihat sebuah tendensi zaman untuk kembali menghidupkan agama yang sempat terpuruk pada abad modern (17-19), zaman kejayaan sains. Di berbagai belahan dunia semakin marak aktivitas-aktivitas religius. Begitu banyak dana dan waktu dihabiskan untuk aktivitas-aktivitas keagamaan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa masih banyak orang mencari Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling fenomenal di dunia sains saat ini adalah munculnya berbagai penelitian tentang masalah spiritual. Misalnya buku “Kecerdasan Spiritual” Karangan Danah Zohar dan Ian Marshall. Dalam penelitian ini, mereka melihat bahwa sejak zaman purbakala, di setiap kebudayaan, selalu ada tendensi untuk ingin berkomunikasi langsung dengan Tuhan atau dewa. Pola budaya seperti ini terjadi hampir di seluruh dunia hingga saat ini. Pada awal tahun 1990-an Michael Persinger, neurolog-psikolog  asal Kanada, mengalami kehadiran Tuhan untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Persinger menghubungkan kepalanya dengan stimulator magnet “transendental”, suatu piranti yang mengeluarkan medan magnetik yang kuat dan berubah-ubah dengan cepat di area kecil jaringan otak. Jika piranti ini digunakan untuk merangsang berbagai area di korteks motorik otak, otot-otot tertentu akan berkedut atau anggota badan akan bergerak sendiri. Jika arena korteks visual dirangsang, orang buta sejak lahirpun dapat “melihat”.  Dalam percobaan Dr. Persinger ini, piranti itu dirancang untuk merangsang jaringan lobus temporal, bagian otak yang berada tepat di bawah pelipis. Dan dia melihat “Tuhan.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Dr. Persinger ini menemukan bahwa ada satu jaringan dalam otak manusia jika diransang akan menghasilkan pengalaman akan Tuhan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Lobus Temporal ini yang ada dalam otak manusia selalu berkaitan dengan pengalaman religius atau spiritual. Maka bagian lobus temporal ini disebut sebagai “Titik Tuhan” (God Spot) atau “Modul Tuhan” (God Module). God Spot inilah yang selalu merindukan Tuhan, dan merindukan dunia yang penuh makna dan kepenuhan spiritual. Kiranya di sanalah ada arti dan makna hidup yang sesungguhnya. Dan makna hidup itu hanya dapat ditemukan dalam kesatuan dengan yang ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Badan-Jiwa&lt;br /&gt;Dalam pemahaman St. Agustinus, hubungan badan-jiwa adalah sebuah misteri besar yang tak dapat dipahami, “Hubungan jiwa dan badan itu begitu mengherankan, sehingga manusia tidak dapat memahaminya. Padahal ia sendiri terdiri atas hubungan tersebut”.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Misteri hubungan jiwa-badan ini membuat manusia mencari apa yang menyebabkan itu terjadi. Manusia mengalami keterbatasan dalam memaknai dan memahami siapa dirinya yang sejati. Dalam refleksi ini, Agustinus menekankan bahwa jiwa yang berakal budi yang menyadari eksistensinya dalam kesatuan dengan badan adalah suatu substansi rohani atau spiritual. Meskipun hubungan badan-jiwa tak terpahami, namun tak bisa juga ditolak keterhubungan dan kesatuan keduanya. Kesatuan badan-jiwa menjadi sebuah substansi yang menggerakkan manusia untuk mencari kepenuhan dalam Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat tepat bila dalam kesadaran ini Agustinus berkata: “Hati kami diciptakan bagiMu ya Allah, dan tidak akan damai sampai beristirahat padaMu”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Ungkapan ini melukiskan kerinduan yang tak terbendung dalam diri manusia untuk kembali bersatu dengan Allah. Artinya dalam diri manusia yang terdiri badan-jiwa ini, ada suatu kekuatan yang selalu mendorong untuk mencari Tuhan. Dalam konteks ini, Tuhan itu dipahami sebagai sumber makna dan kegelisahan hidup. Dalam Tuhan ada ketentraman dan kepenuhan hidup yang sesungguhnya. Ternyata apa yang dialami di dunia ini, dengan segala kemegahan dan kemewahannya tidak mampu memenuhi kebutuhan manusia seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Intuisi&lt;br /&gt;Secara etimologi, intuisi berarti intuire-intuitus yakni memandang dan tuire berarti melihat. Maka intuisi berarti memandang/melihat ke dalam. Menurut Aristoteles intuisi adalah “as the mental acts by which, the premises of all knowledge are revealed”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Artinya bahwa pengetahun intuisi itu merupakan dasar dari semua pengetahuan indrawi. Sebagai dasar pengetahuan, intuisi mampu menangkap hal-hal di luar pengalaman real. Sifat intuisi adalah menangkap suatu tindakan yang berasal dari kesadaran spontan, bahkan tanpa pertimbangan nalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Aristoteles ini juga senada dengan Pascal, seorang filsuf dan ilmuwan kristiani sekaligus seorang yang religius. Ia menggambarkan pengalaman religiusnya dalam istilah logika hati (heart reasons). Logika hati itu istilah lain dari intusi. Bagi Pascal hati/intuisi itu memiliki logikanya sendiri, yang tidak diketahui oleh nalar sedikitpun; “The heart has its reasons of which reason knows nothing”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;. Hati itulah yang memberi ruang akan kehadiran Tuhan dalam diri manusia. Tuhan yang diimani itu pertama sekali datang lewat hati dan bukan lewat nalar, God perceived by the heart, not by the reason.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika hati atau intuisi itu langsung berasal dari Allah. Allah hadir dalam hari manusia, sehingga manusia selalu merindukanNya. Pengalaman kehadiran Tuhan ini bersifat tiba-tiba. Manusia seperti mengalami sebuah peristiwa disergap oleh Allah. Maka secara tiba-tiba mengalami pengalaman yang ilahi/transendental, sebagaimana pernah dialami para mistikus besar dalam gereja dan agama-agama lain. Melalui pengalaman transenden itulah manusia menemukan makna dan arti hidupnya. Kerinduan dan kehausan akan makna hidup terpenuhi hanya dalam kesatuan dengan Allah. Pengalaman mistik F.C. Happold misalnya, ia melukiskan pengalaman itu terjadi dalam ruangan pribadinya. Ia merasakan adanya kehadiran, yang dengan cara aneh berada di sekitar dan sekaligus di dalam dirinya. Seperti cahaya atau kehangatan. “Dan saya terlingkupi oleh seseorang yang bukan diri saya, tetapi saya merasa semakin menjadi diri saya sendiri daripada sebelumnya. Saya dipenuhi kebahagiaan yang intens, dan seperti kesenangan yang tak tertahankan, yang sulit dilukiskan dengan kata-kata….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman  Happold ini adalah contoh pengalaman mistik yang dialami secara nyata. Di dalam pengalaman tersebut, tidak ada lagi ketakutan, kekosongan maupun kekhawatiran, yang ada hanyalah ketenangan dan kebahagiaan, di mana pengalaman itu mengatasi segala yang ada. Bahkan pengalaman akan Tuhan itu tidak dapat dijelaskan secara verbal. Sifat pengalaman akan Tuhan itu melebihi atau mengatasi nalar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan bukti dari sains dan para filsuf, teolog, ahli psikologi yang pernah mengalami kekosongan dan pada akhirnya merindukan Tuhan. Maka dapat dimengerti mengapa manusia mencari Tuhan. Manusia adalah makhluk material dan spiritual sekaligus. Dan di dalamnya ada ruang yang selalu merindukan persatuan dan kehadiran yang tak terbatas. Sehingga berbagai cara ditempuh untuk menemukan sang Misteri dan transenden itu. Bahkan cara-cara irasional sekalipun ditempuh untuk menjawab kehausan jiwa yang merindukan kehadiran Allah. Di dalamNya-lah ada sumber makna dan ketenangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Danah Zohar dkk, Kecerdasan Spiritual, (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 80&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Tuhan dalam konteks ini diberi tanda petik artinya, sebuah peristwa yang terasa begitu damai yang tak pernah dialami sebelumnya. Di mana rasanya manusia mengalami kepenuhan hidupnya dan ia tidak membutuhkan apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Jacques Veuger MSF, Hubungan Jiwa-Badan menurut St. Agustinus, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 27&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Thomas P. Rausch, Katolisisme, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 131&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Bernard S. Cayne (editor), Encyclopedia Americana, (USA: Americana Corporation)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Pascal, Penêes, (London, Penguin Group, 1966), hlm. 27&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Ibid.,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-762950474805083405?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/762950474805083405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=762950474805083405' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/762950474805083405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/762950474805083405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2008/12/mengapa-manusia-mencari-tuhan.html' title='Mengapa Manusia Mencari Tuhan'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-2879926502778439279</id><published>2008-12-21T17:55:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T18:00:26.779-08:00</updated><title type='text'>Budaya Nias, Asal Usul dan Kematian</title><content type='html'>Noverius Laoli&lt;br /&gt;========================================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Latar belakang&lt;br /&gt;Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Orang Nias menyebut diri mereka sebagai Ono Niha (anak manusia). Kemudian pulau Nias disebut sebagai Tanő Niha (tanah manusia). Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam hukum adat dan kebudayaan yang sangat kental. Hukum adat Nias secara umum disebut fodrakő yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Jauh sebelumnya, masyarakat Nias primitif hidup dalam budaya megalitik. Hal ini terlihat dari peninggalan sejarah seperti artefak-artefak yang masih ditemukan di banyak wilayah pedalaman pulau Nias sampai sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Nias juga mengenal sistem kasta. Ada dua belas tingkatan kasta. Dari tingkatan kasta yang ada, yang tertinggi adalah “Balugu”. Untuk mencapai tingkatan ini, seseorang harus mampu mengadakan pesta besar selama berhari-hari dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ratusan/ekor babi. Biasanya orang-orang yang melakukan ini adalah mereka yang memiliki harta dan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Mitologi:&lt;br /&gt;Menurut masyarakat Nias, dalam sebuah mitos, orang Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut Sigaru Tora’a yang terletak disebuah tempat yang bernama Tetehőli ana’a.  Mitologi Nias ini terdapat dalam hoho&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Dalam hoho diceritakan bahwa alam semesta beserta segala isinya adalah ciptaan Lowalangi&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; (Untuk selanjutnya saya lebih suka menggunakan istilah ”pencipta”) dari beberapa warna udara yang ia aduk dengan tongkat yang bernama sihai&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Dewa pencipta terlebih dahulu menciptakan pohon kehidupan yang disebut  Sigaru Tora’a. Pohon ini berbuah dua butir buah yang segera dierami oleh seekor laba-laba emas. Kemudian lahirlah sepasang dewa pertama, yang dinamakan Tuhamora’aangi Tuhamoraana’a berjenis kelamin laki-laki dan Burutiroangi Burutiraoana’a berjenis kelamin perempuan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Keturunan mereka inilah yang kemudia dikenal sebagai dewa Sirao Uwu Zihõnõ sebagai rajanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitos asal usul masyarakat Nias pun, dimulai sejak zaman raja Sirao. Dewa ini memiliki tiga istri yang masing-masing beranak tiga putra. Di antara kesembilan putranya ini timbul pertengkaran yang sengit, yaitu mereka memperebutkan tahta Raja Sirao ayah mereka. Melihat situasi ini, Sirao mengadakan sayembara di antara putra-putranya. Intinya, siapapun yang mampu mencabut tombak (toho) yang telah dipancangkan di lapangan depan istana itulah yang berhak menggantikan-nya. Satu persatu putranya mulai dari yang tertua datang mencoba mencabut tombak tersebut. Tapi tak satupun berhasil. Kemudian anak yang paling bungsu yang bernama Luo Mĕwõna&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; (Lowalangi) datang mencabutnya dan akhirnya berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak-kakaknya yang kalah dalam sayembara tersebut diasingkan dari Tetehõli ana’a, dan dibuang ke bumi, tepatnya di pulau Nias. Dari kedelapan putra Sirao yang dibuang ke dunia (Pulau Nias) hanya empat orang yang dapat sampai di empat tempat di pulau Nias dengan selamat dan akhirnya menjadi leluhur orang Nias. Ke-empat orang lainnya mengalami kecelakaan. Baewadanõ Hia karena terlalu berat, jatuh menembus bumi dan menjelma menjadi ular besar yang bernama Da’õ Zanaya Tanõ sisagõrõ&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; (dialah yang menjadi alas/fondasi seluruh bumi). Jika dia bergerak sedikit saja, maka bumi akan bergoncang dan terjadilah gempa bumi. Agar dapat hidup, naga ini diberi makan oleh burung setiap hari.&lt;br /&gt;Yang lain jatuh ke dalam air dan menjadi hantu sungai, pujaan para nelayan. Dia sering disebut hadroli&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;. Ada yang terbawa angin, dan akhirnya tersangkut di pohon dan menjelma menjadi hantu hutan, pujaan para pemburu. Makluk ini sering disebut ”Bela”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;. Ada juga yang jatuh di daerah Laraga yang kondisi tanahnya penuh batu-batu (12 Km dari Gunung Sitoli) menjadi leluhur orang-orang berilmu kebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Penelitian Arkeologi&lt;br /&gt;Telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; dan di &lt;a title="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/04/humaniora/3002372.htm" href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/04/humaniora/3002372.htm"&gt;Kompas,[11] Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora&lt;/a&gt; menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal-usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marga Suku Nias: Suku Nias terdiri dari beberapa marga diantaranya : Amazihönö, Beha, Baene, Bate'e, Bawamenewi, Bawaniwao, Bawo, dan masih banyak lagi. Fungsi marga adalah menunjukkan garis keturunan dan asal seseorang. Termasuk mengenal famili, sejauh mana garis keturunan dan bisa tau tidak mereka menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Religiositas Masyarakat Nias&lt;br /&gt;a). Lani, Langi&lt;br /&gt;Tradisi lisan Nias sering berbicara tentang langit (lani, langi), tentang lapisan langit yang satu (lani si sara wenaita), ada juga langit yang berlapis sembilan (lani si siwa wenaita) dan tentang seorang leluhur yang bernama satu langit (lani sagörö) atau langit yang satu itu (lani sisagörö). Nama ini dulu sebenarnya bukan Lowalani melainkan Lawalani artinya yang ada di atas langit. Bahasa sehari-hari di Nias Selatan sampai sekarang tetap mempertahankan kebiasaan lama dan mengatakan lawa (atas) dan bukan seperti Nias Utara yang menyebutnya yawa (atas). Pemakaian istilah Lowalangi sebenarnya dipopulerkan oleh seorang misionaris Denniger pada tahun 1865. Ia memilih kata Lowalangi sebagai nama Allah bagi pengikut ajaran Kristen di Nias. Ada kemungkinan saat itu ia belum mengetahui sebutan tradisi Lawalani di Nias Selatan. Walaupun demikian istilah ini diterima juga oleh orang Nias Selatan yaitu yang berada di atas langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut versi Pastor Johannes M. H. Orang Nias tidak mengharapkan firdaus dalam hidup yang akan datang, tidak pula suatu neraka. Baik hukuman maupun imbalan tidak mereka harapkan. Karena orang Nias percaya, bahwa semuanya akan berakhir. Maka orang Nias tidak takut akan sesuatu dan mengharapkan sesuatu. Hanya inilah yang merupakan imbalan atau hukuman bagi orang Nias. Mereka yang sudah meninggal dipandang terhormat dan terburuk. Selain itu mereka pasrah saja pada nasib mereka dengan hati tenang.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Akan tetapi, versi ini diragukan kebenarannya karena pada kenyataanya orang Nias masih percaya pada arwah leluhur dan peranannya bagi kehidupan. Bisa dilihat dari patung-patung (Nadu) yang dianggap sebagai tempat roh leluhur bisa hadir. Selain itu, konsep tentang adanya dunia orang mati juga dipercaya yaitu Tetehõli ana’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Nias, setelah meninggal semuanya akan punah. Manusia yang meninggal akan menjadi makanan cacing dan lalat yang besar (ö gulö-kulö, ö deteho) seperti dinyanyikan dalam Hoho yang tertinggal hanyalah ”Nama kebesaran” (töi sebua) dan ”kemuliaan” (lakhömi). Sasaran dari pesta-pesta besar (owasa fatome) yang dirayakan di Nias pada zaman dulu adalah untuk mendapat nama yang mulai (töi so-lakhömi).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Agama Asli Orang Nias&lt;br /&gt;”Pĕlĕbĕgu adalah nama agama asli diberikan oleh pendatang yang berarti ”penyembah ruh”. Nama yang dipergunakan oleh penganutnya sendiri adalah molohĕ adu (penyembah adu). Sifat agama ini adalah berkisar pada penyembahan ruh leluhur.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Meskipun tidak ada konsep kehidupan setelah kematian menurut versi Pastor Johannes M.H, tapi dalam kepercayaan ini terdapat praktik penyembahan roh-roh para leluhur (animisme). Para leluhur itu perlu dikenang, terutama atas jasa-jasa mereka (Nama Besar dan Kemuliaan). Kepercayaan ini termanisfestasi dalam bentuk adu. Orang Nias percaya bahwa patung-patung (adu) itu akan ditempati oleh roh-roh leluhur mereka, karena itu harus dirawat dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menurut kepercayaan umat Pĕlĕbĕgu, tiap orang mempunyai dua macam tubuh, yaitu tubuh kasar (boto) dan tubuh halus.  Tubuh halus terbagi dua, yaitu noso (nafas) dan lumõmõ-lumõ (bayangan). ”Jika orang mati botonya kembali menjadi debu, nosonya kembali pada Lowalangi (Allah). Sedangkan lumõ-lumõnya berubah menjadi bekhu (roh gentayangan)”.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Orang Nias percaya, selama belum ada upacara kematian, bekhu ini akan tetap berada di sekitar jenazahnya atau kuburannya. Agar bisa kembali ke Tetehõli ana’a (dunia roh), setiap roh harus menyeberangi suatu jembatan antara dunia orang hidup dan dunia orang mati. Dalam perjalanan itu, semakin roh itu berjalan, jembatannya semakin mengecil bahkan sampai sekecil rambut. Hal itu akan dialami oleh roh-roh yang banyak melakukan kejahatan selama hidupnya. Akhirnya ia akan jatuh dan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Akan tetapi, bila selama hidupnya ia baik, jembatannya tidak menyempit sehingga perjalanan mulus dan sampai ke Tetehõli ana’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paham agama asli ini, roh tersebut jika sudah sampai ke dunianya, akan melanjutkan kembali hidupnya seperti di dunia ini. Kalau dulu semasa hidup dia seorang raja maka di dunia seberang (Tetehõli ana’a) juga ia akan tetap menjadi raja dan yang miskin akan tetap miskin di dunia seberang nanti. Dunia Tetehõli ana’a ini keadaanya ”terbalik”. Apa yang baik di dunia ini, di sana akan jadi buruk. Maka ada kebiasan, orang-orang Nias, bila menitipkan baju dan barang-barang lainnya, semua barang itu dirusak. ”Pebedaan dunia sana dengan dunia sini hanya terletak pada keadaan ”terbalik”, yaitu jika di sini siang di sana malam demikian juga kalimiat dalam bahasa di sana adalah serba terbalik.”[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Dua Upacara Penting Dalam Upacara Kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Famalakhisisi/Fatomesa (Perjamuan terakhir)&lt;br /&gt;Famalakhisisi adalah perjamuan terakhir bagi orang tua yang sudah mau meninggal. Kata lain dari famalakhisisi ini adalah La’otome’õ (kata kerja) artinya dijadikan tamu, fatomesa (kata benda), orang yang sudah mau meninggal akan diupacarkan yang disebut laotome’õ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi budaya Nias sampai hari ini masih melakukan ritual Famalakhisisi atau  fatomesa ini. Ritual ini biasanya dilakukan pada orang tua yang sudah sakit-sakitan dan mau meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              Famalakhisi (Perjamuan terakhir kali) diadakan bagi ayah yang sudah hampir tiba            ajalnya oleh para putranya, setelah ia memberkati serta memberi doa restu kepada    mereka. Pada kesempatan ini si ayah dihidangkan daging babi. Upacara ini harus              dihadiri oleh putra-putranya terutama yang sulung, karena tanpa berkah            doa restu               ayahnya, kehidupan anak tersebut akan mengalami banyak rintangan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan anak laki-laki khususnya anak sulung sangat penting. Anak sulung dipandang sebagi pengganti Ayah dan menjadi pemimpin bagi saudara-saudaranya yang lain. Meskipun peranan anak perempuan tidak begitu ditekankan, tapi mereka wajib datang dan membayar utang mereka sama seperti saudaranya laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat-saat terakhir seperti ini, semua anak dan cucunya datang mengunjunginya. Kedatangan mereka pertama-tama adalah untuk memberikan penghormatan terakhir pada orang tua. Orangtua dalam perspektif orang Nias adalah Tuhan di dunia. Sebagai Tuhan yang tampak harus dihormati dan disembah. Maka berkat orang tua, khususnya saat akhir hidupnya diyakini sangat menentukan hidup mereka dikemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama Famalakhisi atau fatomesa ini adalah mendapat berkat (howu-howu) dari Orangtua yang hendak meninggal. Sebaliknya kalau ritual ini tidak dihadiri (dengan sengaja) oleh salah seorang anaknya, diyakini bahwa dia akan menjadi anak yang durhaka (tefuyu) dan akan hidup dalam ketidakcukupan atau tidak mendapat rejeki dalam hidupnya (ha sifangarö-ngarö ba kaudinga). Maka momen fatomesa ini adalah peristiwa yang sangat berharga. Hal itu menandakan bahwa mereka adalah anak yang selalu tunduk dan turut pada orang tua (ono salulu-lulu khö jatua nia). Karena ketaatan pada orang tua tersebut, mereka akan mendapat berkat darinya dan hidupnya akan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara Famalakhisi atau fatomesa ini, anak-anak dan cucu-cucu dari orang tua yang hendak meninggal akan memestakannya dan makan bersama sebagai tanda penhormatan terhadap orang tua atau kakek mereka. (Dan) Seandainya, kalau ia meninggal, ia pergi dalam keadaan kenyang dan bahagia karena dikelilingi anak-anaknya.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman, di Lahõmi (kampung saya), ketika seseorang sudah sakit parah, semua anggota keluarga kumpul , bahkan dari kampung-kampung lain dan memberi makan (mame'e õ) si sakit. Tentu saja menyembelih anak babi. Setelah berdoa, lalu si sakit diberi makan oleh anggota keluarga, mulai dari yang tertua.  Ini suatu kepercayaan (pesan tersirat) bahwa kita masih berharap Anda (si sakit) masih tetap kuat dan bertahan, namun seandainya kamu harus pergi, kami tidak terlalu  menyesal karena kamu pergi dengan kenyang. Kami sudah melayani dengan baik sehingga seandainya engkau pergi meninggalkan kami, kamu tidak perlu mencari kami atau mengganggu kami lagi. (Ingat: orang Nias percaya pada "bekhu." (setan) Nah, bekhu ini dalam kepercayaan orang Nias, bisa mengganggu orang yang masih hidup).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fanõrõ satua dan Fangasi&lt;br /&gt;Fanõrõ satua  adalah upacara pemakaman kedua dari yang wafat. Upacara ini bermaksud untuk ”mengantarkan” rohnya ke alam baka (Tetehõli ana’a)”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;. Upacara-upacara ini bersifat potlatch yaitu unsur memamerkan kekayaan agar menaikkan gengsi keluarga dan terpandang di masyarakat. Sebab bagi orang Nias yang paling penting dalam hidup adalah Lakhõmi (Kemuliaan) atau Tõi (Nama) keluarga. Biasanya dalam upacara-upacara ini, keluarga orang yang telah meninggal akan mengadakan pesta besar-besaran. Dalam upacara ini, mereka memamerkan kekayaan dengan memotong babi ratusan ekor dan membagikan kepada sanak keluarga, kerabat dan orang sekampung bahkan dengan kampung tetangga. Namun upacara ini tidaklah bersifat wajib. Hanya bagi orang-orang tertentu saja yang memiliki harta dan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinonim dari fanõrõ satua adalah fangasi. Bagi orang yang meninggal, harus ada fangasi terjemahan harfiahnya adalah  penebusan (redemption). Tapi fangasi bisa juga disebut fangasiwai artinya penyelesaian. Maka fangasi ini bisa dikatakan lebih menekankan pada penyelesaian upacara bagi orang yang telah meninggal.&lt;br /&gt;Dalam perspektif orang Nias fangasi tidak sekedar penebusan orang yang sudah meninggal melainkan sebuah perayaan dan penghormatan sekaligus pengenangan. Selain itu, juga saat melunasi hutang-hutangnya jika masih ada. Fangasi ini adalah semacam pesta bagi orang yang masih hidup sebagai tanda bahwa mereka sudah merelakan kepergian almarhum. Pesta ini biasanya diadakan empat hari setelah yang meninggal dikuburkan. Ritual ini dikenal sebagai fananő bunga (menanam bunga) di pusara yang sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual yang pertama sekali diadakan adalah pada pagi hari keluarga beserta kenalan dekat datang ke kuburan dan menanam bunga, dan kemudian berdoa. Setelah kembali dari kuburan, mereka akan memotong babi dan makan bersama sebagai upaya mengenang yang sudah meninggal inilah yang disebut fangasi. Di sini tidak terlihat lagi tangisan dan kesedihan, upacara ini adalah tindakan memestakan orang yang sudah meninggal. Upacara ini juga disebut sebagai penghormatan karena melalui upacara ini dia diakui eksistensinya bahwa ia pernah hidup dengan mereka, dan sekarang almarhum telah pergi (mofanő/ irői gulidanő) dari dunia fana ini. Dalam pesta ini, semua kerabat dan warga sekampung diundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Nias percaya bahwa yang meninggal itu akan menyadari bahwa ia telah meninggal setelah empat hari. Jadi saat seseorang meninggal sampai empat hari, ia masih belum bangun, meskipun diyakini bahwa rohnya masih berada di sekitar rumah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Saat pertama sekali meninggal, almarhum masih hidup di alam mimpi saja. Tetapi setelah empat hari, almarhum akan bangun dan di situlah ia menyadari kalau ia sudah meninggal. Maka di sana akan terdapat ratapan dan tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama sekali yang dia lakukan adalah kembali ke rumah. Pada saat jam enam sore/atau menjelang magrip, di mana suasana sudah mulai gelap, arwahnya akan masuk ke rumah lewat pintu dapur dan langsung menuju kamarnya, kemudian mengambil barang-barang miliknya, meskipun yang&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt; dia ambil hanyalah bayangan saja (lumő-lumő). Kepercayaan ini, benar-benar bisa dibuktikan. Biasanya di pintu belakang rumah akan ditaburkan abu dan besok pagi akan terlihat bekas kaki almarhum di situ. Bukti itu adalah tanda bahwa almarhum sudah mengunjungi rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, biasanya pada hari keempat juga ada ritual bagi orang yang telah meninggal. Acara ini sangat khusus, hanya dihadiri keluarga dekat saja, bahkan hanya keluarga sendiri.  Mereka (arwah) dipanggil ke rumah untuk jamuan makan terakhir. Tapi ritual ini hanya dilakukan sebagian orang Nias saja, seperti dikatakan oleh Pastor Ote OSC:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ritus khusus setelah kematian di Nias adalah doa setelah 4 hari kematian. Saya lupa istilahnya. Intinya, arwah orang meninggal diundang dan diberi makan untuk terakhir kalinya. Ada kepercayaan bahwa selama 4 hari setelah meninggal arwah masih ada di dalam atau di sekitar rumah. Ritus yang saya tahu adalah pada saat petang, ogõmi-gõmi mai'fu seseorang pergi ke kubur lalu memukul permukaan makam, seolah-olah mengetok pintu untuk mengundang arwah si mati untuk datang ke rumah dan ikut acara. Nah, mulai saat itu, tidak boleh ada orang yang ada di tengah jalan, apalagi berada di pintu karena bisa kesambet (tesafo). Dia (arwah) akan dijamu secara khusus dengan menyembelih babi dan sedapat mungkin sudah membereskan fangasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah empat hari, diyakini bahwa arwah itu sudah siap meninggalkan segala sesuatu yang ada dunia ini dan pulang kepada Tuhan (Lowalangi). Dalam acara hari keempat ini, diadakan perpisahan dengan almarhum. Dunia almarhum telah berbeda, yaitu di alam baka sana. Maka dimohon agar almarhum tidak lagi mengingat apa yang tertinggal di belakang sebab itu bukan miliknya lagi. Itu adalah milik orang yang masih hidup. Diharapkan juga supaya orang yang sudah meninggal itu, bisa tenang di alam sana. Tidak lagi terikat dengan apa yang ada di dunia ini. Termasuk tidak bisa menyayangi dan mencintai yang ada di dunia. Karena menyayangi itu sama dengan menarik orang yang masih hidup ke alam kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Nias percaya bahwa ”cinta” orang yang sudah meninggal itu tidak dibutuhkan lagi, sebab kasih sayang mereka itu menimbulkan maut bagi yang masih hidup.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Orang yang sudah meninggal menyayangi dengan mengambil apa yang mereka sayangi. Artinya membuat yang dia sayangi itu meninggal. Hal ini juga dibenarkan oleh Pastor Ote.&lt;br /&gt;Dalam upacara itu, orangtua dalam keluarga itu akan mengadakan/mengucapkan berbagai batasan dan aturan. Misalnya, "Saudara (yang sudah mati) duniamu dan dunia kami sekarang berbeda. Tenang dan bahagialah di tempatmu yang baru dan jangan terlibat lagi dalam segala urusan keluarga yang masih hidup. Kami sanggup mengatasi segala keperluan keluarga. Kalau kamu dulu senang sama anak-anak dan suka menggendong dan memeluk mereka, maka sekarang karena dunia kita berbeda, jangan lagi lakukan hal demikian karena Lowalangi akan menghukum engkau. Engkau tidak punya hak lagi. Tugasmu adalah mendoakan anak-anak itu supaya mereka terpelihara dan baik. Jangan kembali lagi ke rumah ini karena sudah ada rumahmu yang baru…..(dan beberapa ungkapan lain)."  Setelah 4 hari, diyakini bahwa arwah sudah tidak berada di rumah lagi. Setahu saya tidak ada lagi upacara untuk si mati, kecuali kalau fangasi tadi belum dibereskan.  &lt;br /&gt;Acara pada hari keempat ini adalah acara terakhir bagi orang yang sudah meninggal. Tidak ada lagi acara-acara resmi lainnya untuk mengenang dan mendoakan arwah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Dunia setelah kematian bagi orang Nias terbagi dalam dua perspektif. Pendapat pertama berpendapat bahwa setelah meninggal seseorang akan menjadi abu, makanan cacing, dan tidak ada lagi harapan untuk kehidpan selanjutnya. Kedua, setelah meninggal seeorang tetap melanjutkan hidup di dunia lain yaitu Tetehõli ana’a. Maka dibuatlah adu untuk dapat mengenang mereka, dan diyakini mereka akan masuk ke dalam patung-patung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencari sintesis di antara dua padangan yang berbeda ini, perlu kita mengetahui apa itu manusia dan terdiri dari apakah manusia itu dalam perspektif Nias. Manusia terdiri dari boto (tubuh), noso (nafas/nyawa) dan Lumõ-lumõ (roh/bayang-bayang). Pada saat  meninggal noso akan kembali kepada pencipta, sementara boto akan kembali ke tanah dan jadi debu. Lumõ-lumõ akan kembali ke dunia roh (Tetehõli ana’a). Di sini semakin jelas bahwa, boto sajalah yang akan musnah dan menjadi makanan cacing, sementara lumõ-lumõ akan melanjutkan hidup di alam baka. Maka ada jurang pemisah antara dunia arwah dengan dunia manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang telah meninggal tidak bisa menyeberang jurang tersebut. Di sanalah arwah yang sudah meninggal tinggal sampai selamanya. Hubungan dengan mereka tidak ada lagi. Yang tinggal hanya Tõi nama, dan Lakõmi (kemuliaan). Yang dapat dikenang dan menjadi kebanggaan bagi generasinya, bila nama yang dia tinggalkan harum dan besar. Demikian juga berlaku sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Harmmerte, Pastor Johannes M. OFMCap. 1999. Asal Usul Masyarakat Nias, Suatu    Intepretasi. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias&lt;br /&gt;Koentjaraningrat, Prof. Dr. 1976. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta:       Djambatan.&lt;br /&gt;http:// www. Tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2006/11/25/brk,20061125-     88428 Sabtu 25 November 2006&lt;br /&gt;htt://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/04/humaniora/3002327.htm&lt;br /&gt; Wikipedia Indonesia, ensiklopedia Indonesia&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;  Ada banyak kelompok masyarakat yang hidup di Nias, dan tidak semua disebut orang Nias karena tidak semua keturunan leluhur Nias asli. Mereka bisa digolongkan sebagai pendatang yang telah lama hidup di Nias sampai  beberapa generasi. Contoh, orang-orang cina, aceh, mentawai dsb.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Hoho adalah syair yang ditembangkan. Syair ini masih dinyanyikan dalam pesta-pesta adat, juga oleh mereka yang sudah beragama Nasrai, bdk: Prof. Dr. Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1976), hlm. 51&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Lowalangi adalah nama yang terlanjur dipopulerkan sebagai dewa pencipta/Allah oleh misionaris Kristen Denniger padahal dewa tertinggi dalam mitologi Nias adalah Sihai.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Sumber ini masih bisa diragunkan karena Sihai adalah nama dewa maha pencipta manamungkin dijadikan tongkat lowalangi. Ibid.,&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Ibid.,&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Lowalangi ini sebenarnya anak dari raja Sirao yang bungsu, dialah yang berhasil memenangi sayembara perebutan tahta ayah mereka.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Nama lainnya adalah Latura danõ&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Makluk yang menghuni air, khususnya yang dalam dan angker, bisa membunuh orang&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Bela ini, seperti manusia, hanya saja seluruh tubuhnya putih seperti kapas, baik itu rambut dan sebagainya. Bela ini sebagai penguasa hutan dan pemilik seluruh binatang di hutan. Bila berburu harus berdoa dan minta kepada Bela yang empunya.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; &lt;a href="file:///M:/Tempointeraktif,%20(http:/%20www.%20Tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2006/11/25/brk,20061125-88428%20Sabtu%2025%20November%202006"&gt;Tempointeraktif, (http:// www. Tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2006/11/25/brk,20061125-88428 Sabtu 25 November 2006&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; htt://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/04/humaniora/3002327.htm&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Sumber dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia Indonesia&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Bandingkan: Pastor Johannes Maria Harmmerte, OFMCap, Asal Usul Masyarakat Nias, Suatu Intepretasi, (Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias, 1999), hlm. 201&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Ibid.,&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Koentjaraningrat  Op. Cit., hlm. 50&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Koentjaraningrat, Op.Cit., hlm. 50&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Ibid., hlm. 51&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Ibid., hlm. 47&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Sumber dari Pastor Ote OSC&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Koentjaraningrat, Op.Cit., hlm. 48&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Sebab dalam mitologinya, orang Nias percaya bahwa roh orang meninggal, masih berada di sekitar rumah sebelum dia didoakan atau diupacarakan.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Pernyataan ini hanyalah sekedar keyakinan yang tidak bisa dipertanggungjwabkan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Bahkan bayang-bayang orang yang telah meninggal tidak bisa mengenai orang yang masih hidup karena bisa sakit. Maka pemutusan hubungan secara total bagi arwah itu adalah mutlak hukumnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-2879926502778439279?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/2879926502778439279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=2879926502778439279' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/2879926502778439279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/2879926502778439279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2008/12/budaya-nias-asal-usul-dan-kematian.html' title='Budaya Nias, Asal Usul dan Kematian'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-4329277419902191010</id><published>2008-11-25T08:01:00.000-08:00</published><updated>2008-11-25T08:03:18.704-08:00</updated><title type='text'>Confucius, Si Manusia Unggul</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;By. Noverius Laoli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang memiliki integritas akan melakukan segala hal dengan cara yang berbeda” (Confucius)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Confucius, si Suhu Miskin  yang hidup pada abad ke 6 Sebelum Masehi dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di wilayah pesisir utara-tengah Cina adalah seorang Guru Bijaksana dari Cina. Confucius tahu semua hal tentang hidup, ia mewariskan kepada kita bagaimana cara berperilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Confucius dilahirkan pada tahun 551 Sebelum Masehi di negara feodal Lu, yang sekarang menjadi bagian dari propinsi utara-tengah Shantung. Ayah Confucius adalah seorang pejabat militer rendahan dan telah berusia tujuh puluh tahun ketika Confucius dilahirkan. Ketika Confucius berusia tiga tahun, ayahnya meninggal dan ia pun dibesarkan oleh ibunya. Di akhir hidupnya, Confucius memberikan catatan tentang masa remajanya, “Ketika aku berusia lima belas tahun, aku hanya tertarik untuk belajar,” Inilah fondasi kokoh kehidupannya yang kelak dilihatnya bisa dibagi menjadi sejumlah tahap: …”Pada waktu aku berumur tiga puluh, aku memulai hidupku; dan ketika umurku mencapai empat puluh, aku yakin dengan semua yang aku percaya; pada usia lima puluh, aku telah mengerti keberadaanku dalam segala hal; pada umur enam puluh tahun, aku tahu tak ada perlunya berdalih; dan sekarang, pada saat usiaku telah mencapai tujuh puluh tahun, aku pun dapat melakukan apapun tanpa menganggu hidupku.” (Paul Strathern: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi kehidupan pada zaman Confucius dipenuhi dengan kegetiran yang terjadi di mana-mana. Kondisi yang tidak kondusif ini berdampak bagi Confucius muda. Ia tumbuh menjadi seorang yang tegar dan selalu berpikir praktis dalam hidupnya. Situasi ini jugalah yang membuat Confucius dikenal sebagai seorang pemikir pragmatis. Menanggapi situasi ini, Confucius akhirnya memahami bahwa semua penderitaan yang “tersembunyi” ini hanya bisa dihentikan apabila seluruh pemikiran masyarakat Cina diubah. Caranya adalah dengan mengubah tujuan keberadaan suatu masyarakat, tetapi masyarakat itu sendiri tidak perlu berubah. “Para penguasa harus menjalankan pemerintahan dan para pengawai dalam pemerintahan harus melaksanakan tugas-tugas mereka, seperti halnya seorang ayah harus bertindak sebagai ayah bagi anak-anaknya.” Sebab jika pemerintah bukan lagi pemerintah; rakyatnya tidak lagi rakyat; ayah bukan lagi ayah; anak bukan lagi anak, maka kita tidak dapat mengandalkan  apapun dan siapapun lagi, artinya negeri itu pun akan hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengabdi Pengetahuan&lt;br /&gt;Sejak kecil Confucius dikenal sebagai seorang yang rajin belajar, hal ini dipertegas pada pernyataanya bahwa “ketika berumur lima belas tahun, aku hanya tertarik untuk belajar”. Confucius mempelajari sejarah, musik, dan liturgi/ritus. Dengan segera ia dikenal sebagai orang terpelajar di Lu. Semangatnya sebagai pembelajar yang tekun, terlihat dari pribadinya yang ambisius. “ I silently accumulate knowledge; I study and do not get bored; I teach others and do not grow weary – for these things come naturally to me” (Raymond Dawson: 9) Dengan rajin belajar Confucius berharap bahwa pada suatu saat dia akan mendapatkan posisi yang tinggi di pemerintahan agar gagasan-gagasnnya dapat direaliasisikan. Namun sayang, para penguasa pada zaman itu lebih senang berpesta pora daripada menerima Confucius yang bertentangan dengan pola hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun gagal memasuki pemerintahan, Confucius tidak menyerah. Ia membagikan pemikirannya lewat pendidikan. Jika pada masa itu sekolah-sekolah  mengajarkan berbagai etiket dan ritual istana agar bisa menjadi pegawai Istana, Confucius mengajar calon abdi negeri bagaimana caranya menjalankan pemerintahan. Sistem pengajarannya ini mendobrak sistem pendidikan yang bermentalitas budak. Bila setiap orang hanya diajar menjadi prajurit, dan hamba, Confucius menciptakan manusia yang mampu menjadi pemimpin atau manusia-manusia unggul. Bagi Congfucius “Para manusia unggul bertarung dengan kata-kata, bukan dengan perbuatan”.( Paul Strathern: 11) Tak ada tempat di sekolah Confucius bagi orang yang tidak pandai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif Confucius, pendidikan yang ideal itu mengandung ajaran moral. Tujuan pendidikan moral adalah agar para muridnya dapat berperilaku secara benar, sebab bagi Confucius, bila murid-muridnya ingin menjadi pejabat yang mengatur rakyat, maka mereka harus lebih dulu belajar mengatur diri sendiri. Sebab inti pengajaran menurutnya adalah kebajikan, artinya sesama manusia harusnya saling mencintai. Tugas setiap manusia adalah membuat dirinya menjadi lebih baik, untuk menjadi semanusiawi mungkin, dan untuk menjadi menajadi manusia yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur utama dalam pengajaran Confucius disimbolkan dalam karakter Cina, jen. Karakter ini adalah suatu gabungan dari kemurahan hati, kemuliaan, dan cinta atas kemanusiaan. ada lima hal yang harus dijalankan agar bisa disebut jen yaitu: rasa hormat, toleransi, dapat dipercaya, ketekunan yang cerdas, dan kemurahan hati. Selain ajaran jen, Confucius juga menekankan dua hal yaitu, te (kemuliaan) dan ye (keadilan). dan dalam kehidupan sehari-hari Confucius menekankan perlunya li (kepantasan) dan sikap hormat terhadap ritus-ritus tradisional. Bila semua ajaran ini dapat dijalani dengan baik maka akan menghasilkan Chuntzu (manusia unggul) yang akan menjalani kehidupan yang harmonis dan mulia, terbebas dari kecemasan dan kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban dan kemanusiaan&lt;br /&gt;Tanpa adanya unsur kemanusiaan dalam kehidupan yang nan biadab, tentu tak akan pernah lahir peradaban umat manusia. Banjir darah dan kengerian yang terjadi di dalam peradaban Mesir dan Maya adalah dua contoh peradaban maju yang runtuh karena tak ada unsur kemanusiaan di sana. Sekuat apapun negara dan pemerintah bila mengabaikan sisi kemanusiaan dalam negerinya, mustahil negara tersebut akan bertahan lama. Hal ini disadari betul Confucius, karena itu perlu ada revolusi dalam peradaban manusia. Perubahan paradigma dari yang biadab ke paradigma yang beradab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia harus mengejar keutamaan tertinggi dalam hidupnya yaitu mengejar kebaikan demi kebaikan itu sendiri. Idealisme ini dapat dijalankan secara praktis dengan “menjinakkan diri sendiri” dan “Jangan melakukan sesuatu kepada orang lain, bila kamu tak menghendaki hal itu dilakukan terhadapmu”. Ajaran ini menekankan konsistensi dalam bersikap dan bertutur. Artinya manusia hendaknya menyadari dirinya secara real, apa kelebihan dan kekurangannya. Setelah itu, mereka akan menerima keadaan mereka sebagaimana adanya  dan menjalankan tugas sebagaimana fungsinya. Keteladanan seperti ini adalah ciri khas manusia unggul. Sebab moralitas manusia unggul merupakan suatu keteladanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling utama dalam pencapaian Confucius adalah kemampuannya sebagai seorang pendidik. Tujuan utama sekolah yang didirikannya adalah untuk membentuk manusia-manusia yang siap menjadi abdi negara yang bisa menyebarkan gagasan-gagasa sosial dan politiknya. Keberhasilan dalam pendidikan bukanlah dimaksudkan bagi kepentingan individu, melainkan masyarakat secara keseluruhan. “Ia menggali dirinya sendiri sehingga menjadi mampu untuk memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi semua orang.” (Paul Strathern: 31) Inilah yang menjadi tujuan pendidikan yang bermoral, karena moralitas yang sesungguhnya semata-mata adalah keterlibatan di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saat ini, bangsa ini masih terpuruk dalam kebangkrutan moral dan kebobrokan mentalitas, ada baiknya sejenak kita belajar dari Confucius. Yang pertama-tama diubah bukanlah masyarakatnya, tapi paradigma berpikir para pejabat negeri ini. Khususnya dalam bidang pendidikan yang selama ini menekankan pengetahuan tapi tanpa moralitas. Ada kekhawatiran kelak bangsa ini akan melahirkan manusia-manusia unggul tapi tanpa moral yang baik dan bermentalitas bobrok.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-4329277419902191010?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/4329277419902191010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=4329277419902191010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/4329277419902191010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/4329277419902191010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2008/11/confucius-si-manusia-unggul.html' title='Confucius, Si Manusia Unggul'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-7043397590053622878</id><published>2008-11-22T21:24:00.000-08:00</published><updated>2008-11-22T22:39:51.422-08:00</updated><title type='text'>Mendaratkan Filsafat ke Bumi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;By. Noverius Laoli&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jauh Sebelum Kristus lahir, telah berdiri sebuah negara Romawi kuno yang memiliki sistem pemerintahan nyaris sama dengan negara modern. Tersedia tempat berdebat, senat, dan alun-alun di sanahlah setiap orang bebas ber-ekspresi. Semacam sebuah negara impian. Hanya saja pemerintahan ini korup. Sama seperti di Indonesia. Para pejabat berlaku sesuka hatinya. Memeras rakyat dan belum puas dengan itu menjebloskan rakyatnya ke pengadilan dan dijatuhi hukuman mati, tanpa kehadiran si korban. Tindakan yang sangat tidak manusiawi. Tindakan itu dilakukan Verres Gubernur negeri Sisilia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah situasi yang semrawut itu, muncul seorang tokoh legendaris dan konvensional Cicero. Seorang pemuda tampan, gagah perkasa, dan berbudi luhur. Dengan segera ia menjadi tokoh idaman. Memiliki otaknya yang cerdas, dan mahir dalam ilmu retorika. Masa mudanya dihabiskan dengan belajar filsafat Yunani kuno, ilmu Retorika (eloquentae) di Universitas Akademia yang didirikan nenek buyutnya filsafat, Plato. Setelah menamatkan pendidikannya, ia pergi dengan satu pesan dari gurunya Molon: “Pulanglah, anakku, dan taklukkan Roma”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat menaklukan Roma, filsafat harus diaplikasikan. Artinya harus membumi, dengan membantu menyelesaikan segala persoalan masyarakat. Filsafat harus menjadi pelayan kepentingan rakyat. Hal itu mengingatkan dia pada Sokrates, filsuf ganjil itu. Yang pekerjaanya setiap hari hanya berdialog dan berdebat di pasar-pasar, sambil menjual kebenaran. Ternyata pengaruhnya begitu dasyat. Pemuda-pemuda tertarik dengan tawaran ini dan akhirnya mengubah zamannya, dari dunia mitos ke dunia yang logos. Meskipun filsuf malang ini harus membayar semua kebenaran itu dengan nyawanya. Tapi tidak apa, bagi Sokrates “Hidup tanpa filsafat tidak layak dijalani”. Lebih baik memilih mati daripada hidup tanpa berfilsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat hidup para ahli filsafat Yunani ini, telah mencetak seorang Cicero yang luar biasa brilian dan fasih berbicara. Saatnya filsafat harus mendarat. Sebab korupsi bagaikan “Ikan membusuk mulai dari kepada”, untuk menumpasnya, perlu pisau tajam dan kuat untuk memenggal kepala yang busuk itu yaitu dengan pisau bedah filsafat. Kesadaran ini dibangun Cicero ketika ia menyeret Verres di muka pengadilan. Dan menghujaninya dengan argumen-argumen yang mematikan. Membongkar borok yang telah penuh bau busuk itu, dan memperlihatkannya di hadapan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat yang dia miliki dipakai untuk menggerakkan “Akal budi masyarakat” yang terbuka pada kebenaran. Dia membimbing pikiran mereka untuk mengetahui kebenaran. Tindakan ini bangaikan membangunkan singa yang sedang tidur. Verres yang korup itu-pun dijebloskan dalam penjarah, dan tamatlah riwayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orator ulung ini yakin bahwa kekuatan ‘kata’ lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. Keyakinan ini diceritakannya kepada saudaranya Brutus: “Kefasihan yang tidak menggugah tak kupandang sebagai kefasihan”. Dalam setiap perkataanya, selalu tersimpan kebijaksanaan, integritas dan keyakinan yang luar biasa pada apa yang dikatakanya. Dan tentu saja, kepiawaian berbicara itu karena didasarkan pada moralitas yang ditujukan demi kebaikan serta kesejahteraan bersama. Bonus dari kegigihannya itu adalah ia mendapatkan jabatan-jabatan bergensi termasuk sebagai Consul. Kemenangannya yang gilang-gemilang ini, harus diakhiri seperti para pendahulunya, mengorbankan nyawanya demi kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Cicero harus menyerahkan kepalanya untuk dipenggal. Ia pergi secara terhormat sebagai seorang kesatria. Namun Cicero tak pernah mati. Hingga hari ini Sang filsuf, negarawan dan politikus itu tetap hidup dan ikut menggerakkan roda sejarah peradaban umat manusia. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-7043397590053622878?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/7043397590053622878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=7043397590053622878' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/7043397590053622878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/7043397590053622878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2008/11/mendaratkan-filsafat-ke-bumi.html' title='Mendaratkan Filsafat ke Bumi'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-7486718223428219278</id><published>2008-09-02T09:01:00.000-07:00</published><updated>2008-11-22T22:52:13.319-08:00</updated><title type='text'>Philosophy</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;By Noverius Laoli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gnothi Seauton, know your self - Socrates&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;The word of philosophy was come from Ancient Greek, Philosophia, Philos (Love) and Sophia (wisdom), so it mean Love of Wisdom, the man who learned philosophy is a philosopher. And we can call him/her a lover of wisdom. Philosophy is different with theologi. We can call a man who learned Teologi is a lover of God.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;There are some questions about philosophy. For examples, how to love a wisdom? And Socrates answer, if we want to love a wisdom, we should know our self (Gnothi Seauton). In other words, the wisdom is the result of knowledge inside us. The next question is: When we have to know our self? or How to know our self? Socrates answered, one knows him self if he knows his/her limitation or knowing the limit of the self. So we can say ‘know our limition’ is very important to be a lover of wisdom.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;To be a philosopher should know his limitation. There are three limit that he/she must realize: Epistemology limit. This means limit of knowledge. The man must be able to differentiate between truth and error. He should know, when he knows something and when he doesn’t know. Consciousness about conscious is important to know our limitation.Ethics limit. This means limit of actions, our behaviour etc. every people must know what he/she can do and can’t to do or limit of better and worst. The meaning of limit ethics is to make every body have responsibility of his/her action.Existential limit. This means limit of life. To know that our life determined by the others, we can’t do anything by our self in our life because we can’t life without the others.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;The purpose to realize our limit life is to teach us that in every things we are not always as subject, that do something but we can be an object of what we are doing. As Recoeur said, Who is a man? And Recoeur answer the man is “ The acting, the Suffering being.” And Paul Tillic said, in the man self, we always meet “The limit Situation”. This means one situation can make us to be a rich but we cannot to be a rich man. For example, in reality we can do anything but we can’t do it again because we are sick.So the philosophy of work/task is to determine the courage to be, courage to exist always, and to make our life have a value, and meaning. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Philosophy should create or born a new force to arrive value in this word.We can conclude that philosopher is not a man who knows every things, but the man who learns to knows his/her self, especially to realize their limitation.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-7486718223428219278?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/7486718223428219278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=7486718223428219278' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/7486718223428219278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/7486718223428219278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2008/09/philosophy.html' title='Philosophy'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-7493479039561749469</id><published>2008-07-05T07:56:00.000-07:00</published><updated>2008-07-05T07:59:16.288-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekulrisme'/><title type='text'>Sekularisme  vs  Revivalisme</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;By Noverius Laoli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sekularisme perlu dalam konteks masyarakat modern yang majemuk, dan ada kalanya ia perlu mengintervensi kebijakan agama yang tidak toleran.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Pengakuan dan penghargaan terhadap kemajemukan masyarakat modern adalah penting sejauh itu bersifat konstruktif. Lebih daripada itu, sekularisme mengarahkan kita pada bentuk masyarakat terbuka. Artinya masyarakat yang inklusif, menerima sesuatu yang liyan menjadi bagian dari dirinya. Oleh karena itu, sekularisme harus tetap dipertahankan agar potensi otoritarianisme yang terkandung begitu kuat di dalam agama, tidak menyatu dengan kecenderungan otoritarianisme yang mewatak pada kekuasaan bersama negara.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;Apa itu sekularisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekularisme berasal dari kata latin saeculum yang berarti ‘abad’ dan ‘dunia’. Maka sekularisme adalah paham yang memfokuskan diri pada masalah-masalah duniawi saja. Dengan kata lain, sekularisme adalah terlepasnya manusia dari ortodoksi dan pendiktean dogma-dogma religius yang suci. Sebenarnya gerakan ini sudah muncul di abad pertengahan. Akan tetapi gaungannya masih lemah karena masih sering ditekan oleh otoritas gereja yang berkuasa. Memasuki zaman Renesans, orang-orang yang mengalihkan perhatiannya dari agama mulai secara terang-terangan mengkritik kebobrokan gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Jacob Holyoake (1817-1906) adalah orang pertama secara resmi yang mengemukakan sekularisme sebagai sistem etika dan filsafat. Menurutnya kebebasan berpikir adalah hak setiap individu. Setiap orang berhak mengemukakan gagasannya secara berbeda. Pemikiran ini sesuai dengan istilah Immanuel Kant yang sangat populer, sapere aude (berani berpikir sendiri). Pada titik ini terjadi perubahan paradigma. Kalau sebelumnya setiap orang selalu berpikir seragam, sekarang setiap orang berpikir secara berbeda sesuai dengan pemahaman dan kepentingannya. Adalah hak setiap orang untuk merumuskan dirinya dalam dunia modern yang plural ini. Bagaimanapun, perbedaan adalah kekhasan setiap bangsa dan agama. Tanpa adanya pengakuan terhadap perbedaan niscaya dunia manusia akan mengalami perkembangan dan terciptanya hidup yang damai dan rukun di setiap komunitas dan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekularisme selalu bersifat open-ended. Artinya menunjukkan keterbukaan dan kebebasan bagi setiap manusia untuk bertindak dan bertanggungjawab. Karena itu, sekularisme bersifat dinamis dan cenderung membawa pada pembaruan dan perubahan. Hal ini hanya bisa terjadi jika seseorang keluar dari ajaran dan tradisi yang telah dianggap menjadi dogma. Sekularisme mengamalkan masyarakat terbuka yang lebih demokratis, masyarakat yang taat secara kritis dan bertanggungjawab. Sebaliknya sekularisme berusaha mengintervensi ajaran-ajaran agama yang mengekang kebebasan manusia. Sekularisme menciptakan kondisi masyarakat yang terbuka dan toleran pada perberbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam istilah Goenawan Mohamad, perlu ada iman yang mengakui kebesaran Tuhan sembari terus menegaskan otonomi manusia. Otonomi inilah yang perlu ditekankan dalam pemahaman sekularisme. Adalah penting bagi setiap individu untuk mengembankan otonomi dirinya sebagai subjek yang mandiri dan bebas tanpa intervensi dan acaman dari pihak luar termasuk ajaran-ajaran agama yang sifatnya mengkerangkeng kebebasan tersebut. Dan masyarakat terbuka memberi peluang untuk menegaskan otonomi individu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sekularisme vs Revivalisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Revivalisme yang muncul adalah respon terhadap sekularisme. Seruan agar kembali  kepada ajaran agama yang murni kembali digaungkan. Dalam pengertian Goenawan Mohamad, kaum revivalis adalah mereka yang mendukung kembalinya keimanan ke dalam “keaslian” iman yang semestinya, “keaslian” yang dimaksud adalah “kemurnian” teks. Gerakan ini muncul karena agama menemukan dirinya bukan lagi menjadi satu-satunya penjaga kebenaran dan keadilan. Kaum revivalis beramai-ramai menyerukan kembalinya ke teks-teks Kitab Suci yang murni. Tetapi mereka juga lupa bahwa teks-teks kitab suci yang murni itu, begitu rentan terhadap kemelesetan bahasa yang sangat sulit dihindari. Hal lain yang tidak disadari adalah teks-teks suci dan murni itu juga diterapkan oleh manusia dalam dunia (manusia) yang tidak terbebas dari unsur kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum revivalis, dunia ini telah dipenuhi oleh tumor-tumor ganas dari gerakan sekularisme yang berkembang begitu cepat di seluruh penjuru dunia. Mereka tidak berhenti mengumandangkan bahwa dunia ini tidak akan hancur dan menderita total, sepanjang mereka yang menjadi dokternya. Melihat situasi ini, mereka sesungguhnya telah mengalami trauma besar, sebab gerakan itu adalah tanda kegelisahan dan ketakutan, seolah-olah sekularisme adalah musuh yang harus dihabisi tanpa banyak pertingsih. Bagi kaum revivalis, sekularisme adalah musuh besar agama, karena itu harus dibasmi habis. Sepertinya tidak ada yang baik dalam sekularisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati agama menyebut dirinya sakral, ia juga mendapatkan bahwa dirinya secara perlahan-lahan telah disingkirkan dari percaturan dunia. Agama bukan lagi satu-satunya hakim yang dapat memutuskan keadilan dan kebenaran. Agama telah menjadi salah satu bagian dari banyak institusi yang mengklaim diri sebagai bagian dari dunia. Agama telah setara dengan institusi-institusi lainnya yang sifatnya sekular dan profan. Gerakan sekularisme sumbangan Barat ini telah menjadi gagasan universal yang menerabas batas-batas geografis dan kultur. Akhirnya sekulrisme pun berubah wajah. Ia memiliki seribu wajah. Di setiap negara dan bangsa, mengalami multitafsir dan makna, di India misalnya, bentuknya berbeda dengan model liberal Barat yang tidak mengenal komunitas-komunitas, dan memaksakan pemisahan tegas antara lembaga agama dan lembaga politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil sekularisme telah mengalami tafsir yang beragam dan berubah dari waktu ke waktu. Sekularisme tidak bisa lagi dipandang sebagaimana sekularisme di Barat. Tetapi  sekularisme selalu mengadakan kompromi dan negosiasi dengan kultur setempat. Artinya setiap kultur menginterpretasi sekularisme sesuai dengan kebutuhan mereka. Dan setiap interpretasi selalu melahirkan interpretasi baru dan seterusnya. Sekularisme pada akhirnya selalu mengalami perubahan pemahaman dan penerapan di setiap bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, esensinya tetap sama yaitu pemisahan yang jelas antara urusan negara dan agama. Urusan politik dan negara harus terbebas dari bayang-bayang doktrinasi agama dan sebaliknya setiap negara menghargai dan melindungi kebebasan masyarakat dalam menjalankan agamanya. Jadi Negara sekular bukanlah anti-agama, namun ia akan hadir dan tetap hidup hanya manakala agama tidak lagi berperan. Ia mengakui kesetaraan yang lebih umum antara para pemeluk agama dan bukan pemeluk agama. Ia menjamin kebebasan bagi semua agama, juga kebebasan dari agama itu sendiri (Rajev Bhargava, 2006: 124). Kebebasan adalah slogan dari sekularisme, tapi bukan bebas dari tanggungjawab tetapi bebas untuk memilih dan merumuskan gagasannya sendiri. Sekularisme membuka sekat-sekat masyarakat, agama dan negara yang bertendensi ke arah ekslusifisme. Sekularisme menata kembali hubungan negara, agama dan masyarakat dalam mengarahkan perjalanan sejarah umat manusia dipelbagai belahan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Novriantoni (penyunting), Sepatah “Kata Kotor” Sekularisme di Asia, (Jakarta: Yayasan Kalam, 2006), hlm. 10&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Ibid., hlm. 11&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-7493479039561749469?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/7493479039561749469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=7493479039561749469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/7493479039561749469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/7493479039561749469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2008/07/sekularisme-vs-revivalisme.html' title='Sekularisme  vs  Revivalisme'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-8524713929520549362</id><published>2008-07-05T07:11:00.001-07:00</published><updated>2008-07-05T07:40:24.228-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan dalam kebudayaan'/><title type='text'>Kedudukan Perempuan Nias Dalam Kebudayaan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;By Noverius Laoli&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kata pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga dapat menyelesaikan Makalah ini. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi syarat sebagai Makalah UAS pada mata kuliah Filsafat Manusia II di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan – Bandung. Selain itu penulis juga merasa makalah yang berbicara mengenai status perempuan Nias sangat penting di zaman ini. Begitu sedikitnya literatur yang berbicara tentang perempuan Nias merupakan sebuah kesulitan tersendiri bagi penulis untuk menyelesaikan Makalah ini. Akan tetapi, sebagai orang Nias, penulis mengetahui banyak tentang adat istiadat di Nias dan bagaimana perempuan di perlakukan dalam budaya dan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas semua ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Filsafat Manusia, di FF Bapak St. Djunatan yang telah meluangkan waktunya membimbing penulis sehingga makalah ini dapat selesai. Juga terima kasih kepada teman-teman seangkatan di FF yang telah membantu memberi inspirasi pada penulis. Dan kepada mereka semua yang telah memotivasi penulis dan menyediakan sarana, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnnya. Harapan saya semoga makalah yang  tidak sempurna ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Penulis menunggu saran dan kritik, dari pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar isi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Judul …………………………………………………………………………&lt;br /&gt;Kata pengantar ………………………………………………………………&lt;br /&gt;Daftar isi    …………………………………………………………………..&lt;br /&gt;Bab I                 Pendahuluan    ……………………………………………….&lt;br /&gt;Bab II              Asal Usul Masyarakat Nias………………………………….&lt;br /&gt;Bab III             Rekap Hasil Wawancara…………………………………….&lt;br /&gt;Bab IV             Analisis ……………..………………………………………&lt;br /&gt;Kesimpulan …………………………………………………&lt;br /&gt;Daftar Pustaka ……………………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab I&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal perempuan berarti berbicara soal martabat dan kedudukan. Di Eropa kaum feminis dengan gencar-gencarnya menyuarakan persamaan hak dan kedudukan dengan laki-laki. Mereka menyebut diri mereka kaum feminis. Seruan emansipasi wanita adalah realitas yang tidak asing lagi di telinga kita. Fakta ini telah menjadi bagian dari kehidupan manusia di abad ini. Hal ini tidak terlepas dari kedudukan lelaki yang umumnya lebih dominan daripada perempuan dalam segala hal. Laki-laki tampaknya sebagai sumber kekuasaan dan sering sekali perempuan yang menjadi korban kekuasaan tersebut. Biasanya kekuasaan tidak jauh dari pengetahuan. Bila yang dominan menguasai ilmu pengetahuan adalah laki-laki, maka kekuasan juga ada di tangan mereka, seperti telah dikatakan Nietzhe ”pengetahuan adalah kekuasaan”. Keinginan mengetahui (the will to power) adalah keinginan untuk menguasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihampir setiap negara dan budaya, kecenderungan menempatkan perempuan dalam posisi kedua sering terjadi. Laki-laki adalah simbol kekuasaan, pengetahuan dan kebenaran. perempuan adalah simbol yang tertakluk karena tak berdaya. Simone de Beauvoir adalah salah seorang tokoh feminis yang mencoba menelusuri akar dari kebudayaan di seluruh dunia, khususnya yang menempatkan perempuan sebagai jenis kelamin kedua. Kemudian Luce Irigaray merefleksikan lebih dalam lagi akar dari semua permasalahan ini. Di Barat sendiri bentuk pengelompokkan antara laki-laki dan perempuan begitu jelas dalam pemakaian bahasa. Berbeda dengan di Timur, dimana bahasanya tidak mengelompokkan jenis kelamin. Meskipun bahasa Timur tidak mengelompokkan jenis kelamin tetapi bila dilihat secara global, umumnya setiap kebudayaan yang ada di dunia menempatkan posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tendensi-tendensi seperti ini sangat dominan dihampir semua akar kebudayaan. Khususnya di Nias, yang jauh dari hirukpikuk perdebatan antara feminis dan maskulin di Eropa dan Amerika. Sebagaimana dilaporkan oleh Kompas dan Tempo, perempuan Nias masih saja mengalami ketidakadilan sampai hari ini. Bahkan dalam sebuah rekaman video, ketika salah seorang perempuan Nias yang ketahuan melakukan hubungan seks dengan kekasih gelapnya, ia malah dipaksa membuka kembali pakaiannya agar direkam dan disebarkan ke semua orang. Tindakan seperti ini sudah melanggar hak asasi manusia. Masalahnya di sini adalah sebagaian besar perempuan Nias tidak menyadari hak-hak-nya. Pendidikan yang rendah dan hidup dalam ekonomi yang pas-pasan membuat mereka semakin bodoh dari hari ke hari. Mereka tidak sempat lagi memikirkan hak-hak mereka apalagi mengembangkan diri secara intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang terjadi di Nias adalah perempuan itu sering ditempatkan di kelas nomor dua. Bahkan dalam memilih pasangan hidupnya pun mereka tidak bisa. Zamannya Sitinurbaya masih kental di Nias. Perempuan itu masih dijodohkan. Artinya mereka tidak dapat memilih sendiri siapa yang akan menjadi suaminya. Situasi ini, agaknya tidak menganggu bagi mereka, khususnya bagi perempuan yang masih hidup dalam budaya Nias yang masih kental adat istiadat-nya. Bisa dikatakan hal ini sudah menjadi hal yang lumrah atau tidak ada artinya perlawanan, karena toh hidup mereka telah ditentukan oleh hukum adat yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya kedudukan perempuan Nias dalam kebudayaan dan masyarakat tidak melulu sebagai objek yang lemah. Dalam beberapa hal perempuan Nias juga menentukan. Mereka dibutuhkan dalam upacara-upacara adat. Mungkin tidak etis kalau kita menuduh ini atau itu yang salah. Lebih bijaksana kalau penulis menyarankan agar perempuan Nias itu meningkatkan kualitas SDM mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ketidakadilan selalu saja ada dihampir semua tempat di dunia ini. Semuanya tergantung bagaimana kesiapan kita menyikapinya, agar tidak menjadi korban atau dikorbankan pun mengorbankan orang lain. Hal yang paling konkret yang harus dilakukan adalah belajar dari sejarah. Sebagaimana telah diserukan oleh Santayana – Filsuf Amerika: ”Orang yang tidak belajar dari sejarah akan dikutuk untuk mengulangi sejarah itu lagi”. Artinya jika sejarah itu sejarah yang suram maka kita akan mengulangi kesuraman itu lagi, di mana seharusnya tidak perlu kita ulangi. Lebih tegas bila dikatakan: agar kesalahan yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita tidak diulangi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab II&lt;br /&gt;Asal Usul Masyarakat Nias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar belakang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Orang Nias menyebut diri mereka sebagai “Ono Niha” (anak manusia). kemudian pulau Nias disebut sebagai “Tanő Niha” (tanah manusia). Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam hukum adat dan kebudayaan yang sangat kental. Hukum adat Nias secara umum disebut fodrakő yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Jauh sebelumnya, masyarakat Nias primitif hidup dalam budaya megalitik. Hal ini terlihat dari peninggalan sejarah seperti ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulai Nias sampai sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Nias juga mengenal sistem kasta. Ada dua belas tingkatan kasta. Di mana tingkatakan yang tertinggi adalah “Balugu”. Untuk mencapai tingkatan ini, seseorang harus mempu mengadakan pesta besar selama berhari-hari dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi. Biasanya orang-orang yang melakukan ini adalah mereka yang memiliki harta dan emas. Bahkan emas adalah lambang kejayaan dan kebesaran kedudukan seseorang. Dikenal dengan istilah “firő” (uang) dan ana’a (emas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitologi:Menurut masyarakat Nias, dalam sebuah mitos, orang nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora’a” yang terletak disebuah tempat yang bernama “Tetehőli ana’a”.  dalam mitos itu diceritakan bahwa kedatangan orang Nias ke Pulau Nias dimulai sejak zaman raja Sirao yang memiliki sembilan putra. Anak-anaknya ini disuruh keluar dari Tetehőli Ana’a karena memperebutkan Takhta Sirao. Dan setelah ke-9 putranya ini dikeluarkan dari Tetehőli Ana’a, dan menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; dan di &lt;a title="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/04/humaniora/3002372.htm" href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/04/humaniora/3002372.htm"&gt;Kompas,[2] Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora&lt;/a&gt; menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marga Suku Nias: Suku Nias terdiri dari beberapa marga diantaranya : Amazihönö, Beha, Baene, Bate'e, Bawamenewi, Bawaniwao, Bawo, Bohalima, Bu'ulölö, Buaya, Bunawolo, Dachi, Dachi Halawa, Daeli, Dawolo, Dohare, Dohona, Duha, Fau, Farasi, Gaho,Gea, Giawa, Gowasa, Gulö, Halawa, Harefa, Haria, Harita, Hia, Hondro, Hulu, Humendru, Hura, Lafau, Lahagu, Lahomi, La'ia, Laoli, Laowö, Larosa, Lase, Lawolo, Lo'i, Lombu, Manao, Mandrehe, Maruao, Maruhawa, Marulafau, Marundruri, Mendröfa, Nazara, Ndraha, Ndruru, Nehe, Saoiago, Sarumaha, Sihura, Tafonao, Telaumbanua, Wau, Wakho, Waoma, Waruwu,Zagoto, Zai, Zalukhu, Zamasi, Zandroto, Zebua, Zega, ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.  Asal usul masyarakat Nias (Menurut Elio Modigliani)&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;strong&gt;[&lt;/strong&gt;4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini diberi judul “Penelitian tentang asal-usul orang-orang Nias.” – berdasarkan hasil penelitiannya, Modigliani melihat, bahwa suku-suku yang tinggal di pulau Nias sangat berbeda dengan suku lain. Ciri-ciri fisik serta akal budi mereka yang berbeda sangat menonjol. Perbedaan utama dilihatnya dari penduduk di bagian utara dan selatan. Modigliani melukiskan mereka begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para penduduk di sebelah Utara kelihatan lebih kecil dengan anggota-anggota tubuh yang lebih kurus dan otot yang lemah. Wajah mereka lebih bulat oval dan mata mereka kecil. Sedangkan para penduduk di sebelah Selatan pada umumnya lebih tinggi, bentuk tubuh mereka lebih proporsional dan lebih kuat. Muka mereka lebih memanjang,  dan mata mereka lebih lebar, hitam, bernyala dan sering sipit.” Di sebelah Selatan jarang ditemukan orang dengan mata horizontal. Di antara orang-orang itu ditemukan  juga orang “&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan mata sipit sedikit dan dengan ciri khas seperti orang  Cina”. Inilah kesan pertama dari Modigliani, bahwa perbedaan etnis di antara Utara dan Selatan lebih menonjol.  Tetapi dia melihat juga kemungkinan, bahwa sudah terjadi suatu proses asimilasi dalam suatu periode yang panjang melalui migrasi para penduduk dan melalui perkawinan campur. Lama-kelamaan tercipta suatu ciri khas gabungan dari dua elemen etnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modigliani melanjutkan uraiannya dengan melihat suatu elemen etnis yang lain, yakni di Nias Barat, persisnya di gunung Buruasi, dan Di Lafau pantai Utara. Para penduduk di dua tempat itu, katanya, memperlihatkan elemen etnis ketiga yang menonjol di Nias. Mereka adalah paling tinggi di antara semua penduduk yang dilihat oleh Modigliani. Rambut mereka lebih bergelombang dan sedikit keriting. Mata mereka hitam dan horisontal melulu. Hidung mereka tidak pendek seperti biasanya hidung orang Melayu, melainkan memperlihatkan suatu profil yang tajam, mirip dengan burung elang. Menurut Modigliani boleh jadi adanya pengaruh kuat dari Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Modigliani mengkonstatir pula, bahwa terdapat perbedaan besar di bidang adat-istiadat yang berakar dalam masyarakat setempat. Di sebelah Utara pulau Nias orang mati biasanya di kubur. Sedangkan disebelah Selatan mayat-mayat orang mati di baringkan dalam peti yang berbentuk perahu dan diletakkan seperti di atas bale-bale dengan tiang yang cukup tinggi, sekitar dua meter di atas tanah – Perebedaan yang lain ditemukan pada cara untuk berpakaian, pada kepribadian mereka dan di bidang bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modigliani tidak membenarkan cerita yang mengatakan, bahwa orang Nias berasal dari suku Batak. Perbedaanya terlalu besar, maupun roman muka, rambut dan warna kulit sangat berbeda dengan orang Nias, apalagi adat istiadat dan bahasa. Selain itu orang batak adalah antropofag, mereka punya tulisan dan pustaka, sedangkan orang Nias tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya modigliani menyimpulkan: “saya yakin, bahwa para leluhur Nias berasal dari Indostan.” Dan menurut dia, mereka datang dari sana berturut-turut dan bergelombang, bukan hanya satu kali saja, melainkan selama beberapa abad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taraf penelitian pada Akhir abad milenium ke-2) &lt;br /&gt;Pada akhir abad ke-20, tingkat penelitian tentang asal-usul masyarakat Nias seolah-olah belum berkembang, masih tetap seperti 100 tahun sebelumnya. Hal ini terbaca dalam buku Reinhold Mittersakschmỏller, direktur museum etnologis di Kota Vienna, Austria. Dalam buku yang diterbitkannya, terdapat catatan harian dan foto-foto dari Freiherr von Brenner-Felsach, Austria, yang pada tahun 1887 telah mengadakan perjalanan di pulau Nias. Tulisan etnografis dari Brenner kemudian dilengkapi Reinhold Mittersakschöller,  yang memberi suatu gambaran tentang Nias pada akhir abad ke-20. jarak waktu antara kedua tulisan tersebut lamanya 110 tahun. Dari sudut antropologi kita melihat dan merasakan  perubahan yang cukup drastis di pulau Nias. Akan tetapi yang menyangkut penelitian tentang asal-usul orang Nias, rupanya sampai sekarang masih belum terdapat suatu perkembangan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mittersakschmoller memberi suatu gambaran singkat tentan asal usul orang Nias, seperti ditemukan oleh Brenner pada tahun 1887, yang sampai sekarang belum dikembangkan dan ternyata belum ditafsirkan dengan tepat. Dalam buku itu Reinhold Mittersakschmoller mengutip skripsi dari Petra Aster yang ditulis dalam rangka menyelesaikan diplomanya. Di situ Petra Aster&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; menguraikan sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ono Niha, mereka ini adalah keturunan para leluhur mitos yang berbeda-beda. Mereka melihat dirinya sebagai putra-putra Sirao, allah pencipta. Nama-nama kecil mereka adalah: Hia, Gỏzỏ, Hulu, Daeli. Rupanya Sirao pertama-tama mengutus putranya Hia ke dunia. Hia sampai di dunia bagian Selatan pulau itu. Tetapi barang-barang berharga yang dibawanya serta dari dunia atas begitu berat, sehingga membahayakan dunia ini, mau terjungkir ke dalam laut. Untuk menghindarinya, Sirao mengutus putranya Gỏzỏ  ke Utara. Lantas situasi menjadi makin gawat, karena bagian tengah dari pulau begitu kuat melingkung ke atas, sehingga dikuatirkan, bahwa Gỏzỏ  dengan ujung Utara dunia akan tenggelam dalam air. Dunia baru seimbang, setelah dua bersaudara yaitu, Hulu dan Daeli, turun dan menetap di pertengahan pulau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana leluhur Nias turun ke dunia, urutannya biasanya berbeda, karena pada umumnya diutamakan para leluhur mitos suku masing-masing. Menurut kepercayaan orang Nias, putra-putra Sirao membawa serta dari dunia atas beberapa potongan barang untuk manusia. Hia misalnya, leluhur kebanyakan penduduk di Utara. Turun ke dunia dengan rumahnya, dengan alat-alat ukuran, dengan timbangan  dan dengan ukuran babi. Leluhur Daeli membawa serta ubi jalar dan satu batu asah. Terkadang dikatakan pula, bahwa dia membawa api ke dunia.  Hulu, putra ke-3 dari Sirao, tidak membawa serta barang-barang penting ke dunia. Namun kelak dia toh harus menduduki posisi penting dalam hidup orang Nias. Pada suatu hari, sewaktu dia bersin di jendela atap, dia kehilangan kepalanya. Kemudian tumbuh suatu pohon kelapa dari padanya. Darahnya menjadi keanekaragaman rumput dan pohon. Akhirnya Zebua, yang hanya dikenal dibeberapa daerah selatan, dikabarkan menciptakan fungsi-fungsi imam di dunia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirao sebagai ayah para leluhur mitos orang Nias juga dikenal sebagai tuan dari “Langit ke-8”. Langit ke-8 itu berada langsung di atas dunia dan disebut juga Teteholi Ana’a (dunia atas yang terdiri dari emas). Tiga isterinya melahirkan kepada Sirao anak-anak laki-laki. Nama anak-anak dari isteri pertama adalah: Ba’uwa Danỏ, Lakindrỏ dan Luo mewỏna. Yang lain bernama: Lasore, Gỏzỏ, Hia, Lahari, Daeli dan Hulu. Waktu Sirao memutuskan mencari penggantinya, semua putranya ingin menerima jabatannya. Oleh karena itu, Sirao memutuskan mengadakan suatu kompetitif definitif. Ia tancapkan sebatang tombak ke dalam tanah dan menugaskan putra-putranya untuk mencabutnya. Siapa yang akan berhasil, dia akan dianggap layak untuk menggantinya. Anak sulung Ba’uwa Danỏ gagal dan harus meninggalkan dunia atas. Dia kelak harus menjadi pemikul dunia dan bermukim di dunia bawah. Juga putra-putra lain berusaha, tetapi gagal. Oleh karena itu empat di antara mereka (Hulu, Daeli, Hia dan Gỏzỏ) di utus ke dunia sebagai leluhur manusia. Hanya Luo Mewỏna berhasil melaksanakan tugas sesaui kehendak ayahnya. Dia menjadi pengganti Sirao dan diizinkan untuk menetap di Tetehỏlo Ana’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.  Kedudukan Perempuan Nias&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dalam adat istiadat dan suku Nias adalah warga kelas dua. Tingkatan ini jelas, dan secara terang-terangan terjadi. Pertama, yang menjadi kepala keluarga adalah laki-laki. Kedua, perempuan tidak bisa mengambil keputusan apapun tanpa suaminya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Ketiga, perempuan sering disamakan dengan barang/harta/kekayaan laki-laki. Keempat, anak yang diharapkan dalam keluarga adalah laki-laki. Bila laki-laki belum ada, maka orang nias bisanya merasa belum memiliki anak. Anak laki-laki adalah penerus marga. Yang mampu mengantikan posisi keluarga dan meneruskan nama klan.  Artinya lelaki adalah hidup itu sendiri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Hal ini terjadi dalam budaya-budaya berpola dua juga, sebagaimna Jacob Sumarjdo menuliskan bahwa Anak lelaki lebih diharapkan, karena memungkinkan hidup kolektif akan terus berlansung.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Kedudukan perempuan sebagai nomor dua membuka kesempatan kepada pihak laki-laki untuk berlaku secara sewenang-weang terhadap perempuan. Perempuan bukan tidak diperlukan, tapi dikalahkan. Perempuan dilihat sebagai jenis kelamin kedua.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan laporan yang disampaikan Kompas, perempuan nias  sering terpinggirkan dan terus berada di ranah domestik dengan beban kerja yang tinggi. Perempuan nias masih juga menerima tindakan kekerasan dari orang-orang terdekat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Kekerasan yang diderita ini sering berasal dari orang tua, saudara laki-laki dan suami. Hasil penelitian kompas ini menceritakan bahwa seorang anak perempuan dan istri yang baik dalam perpektif Nias dilarang menjawab apa yang dikatakan suami atau orangtuanya. Jika hal itu terjadi, maka kekerasan fisik akan menimpa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dalam beberapa hal perempuan nias memiliki peranan yang sangat sentral. Misalnya saat pesta perakwinan. Merekalah yang mamidi afo (sirih) dan mamotu ono nihalő (menasehati pengantin perempuan). Dan mereka juga yang pertama sekali menyambut ketika tamu rombongan dari pengantin laki-laki datang. Dalam hal ini, kedudukan perempuan di Nias tak selamanya dipandang rendah. Mereka juga ikut menentukan dalam beberapan hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan perempuan nias sesungguhnya selalu berada di wilayah abu-abu, di satu sisi mereka memiliki posisi yang sangat tinggi dalam kebudayaan yaitu berperan aktif dalam upacara perkwian dan disisi lain mereka tidak dianggap bila telah menyangktu masalah adat dan norma-norma budaya. Dalam kehidupan sehari-hari, sering ditemukan perempuan nias diperlalukan secara tidak adil. Bahkan dalam beberapa hal mereka hanyalah budak suami dan anak-anak mereka. Meskipun hal ini tidak diungkapkan secara publik, akan  tetapi terjadi secara riil. Peristiwa semacam ini, tampaknya tidak asing lagi sehingga tidak pernah diberikah perhatian khusus atasnya. Akibatnya, kebiasaan buruk ini terus diderita oleh perempuan yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperlakukan perempuan sebagai jenis kelamin kedua memang tidak adil. Akan tetapi perspektif budaya nias membuka kesempatan ke arah ketidakadilan ini. Dalam adat perkawian, perempuan secara tidak langsung itu dibeli oleh pihak laki-laki. Dengan membayar “bowő” (jujuran) yang besar, maka perempuan itu menjadi miliknya. Artinya perempuan adalah harta suaminya. Lelaki memiliki kuasa penuh kepada istrinya. Orang tua tidak boleh ikut campur lagi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan laki-laki yang lebih tinggi dalam budaya Nias tampaknya tidak terlepas dari mitos asal-usul masyarakat Nias. Di mana Sirao, menurunkan anak-anaknya ke dunia, dan mereka semua adalah laki-laki. Pertanyaanya, dari mana datangnya perempuan? Hal ini masih belum terjawab. Tetapi bisa kita lihat, tempat tinggal Raja Sirao disebut Tetehőli ana’a, melambangkan kandungan ibu, keberadaan janin dalam rahim ibunya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Artinya bahwa perempuan juga memiliki kedudukan sentral dalam mitos ini. Meskipun pada realitasnya tidak ditonjolkan lagi. Akhirnya dapat dikatakan bahwa perempuan  adalah rahim bagi kehidupan. Jika anak laki-laki adalah kehidupan maka perempuan adalah tempat kehidupan itu bersemayam. Keduanya saling membutuhkan dan saling melengkapi. Kehidupan tak mungkin ada dan bisa berlangsung tanpa ada tempat yang membuat dia hidup. Laki-laki tidak bisa hidup tanpa perempuan. Keduanya memiliki kedudukan yang sentral meskipun dalam fungsi, mereka berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab III&lt;br /&gt;Rekap Hasil Wawancara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wawancara yang dilakukan oleh penulis akan dimasukkan semunnya dalam bab dua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;A. Wawancara dengan pastor Onesius Otenieli Daeli (Ote)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Bagaimana pendapat pastor mengenai perempuan dalam kultur kita orang Nias?&lt;br /&gt;Menurut saya, secara umum perempuan orang nias itu jarang sekolah. Alasan pertama adalah perempuan itu selalu di jaga dan dikwatirkan, bila ia agak bebas. Artinya lebih sering keluar rumah, kemungkinan akan diincar laki-laki dan kalau terjadi apa-apa bisa mempermalukan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maskudnya pastor, saya kurang mengerti.&lt;br /&gt;Begini Nove, dalam budaya kita orang nias itu, perempuan itu sangat dijaga, ada ketakutan dari orang tua dan saudara-saudaranya kalau saudara mereka perempuan diganggu oleh laki-laki lain dan akibatnya mencoreng nama keluarga, dan kamu pasti tahu dalam adat orang nias, nama keluarga itu sangat berharga bahkan menentukan status sosialnya di dalam masyarakat. Jadi bagaimanapun nama keluarga itu harus dipertahankan bahkan meski harus nyawa taruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, begitu pastor, tetapi mengenai perempuan sendiri, maksud saya, pemahaman orang Nias pada umumnya terhadap status perempuan itu seperti apa? Khususnya terhadap perempuan yang sudah menjadi istri?&lt;br /&gt;Istri itu kan, bisa diperoleh bila “bowő” (mas kawin), maka perempuan itu dilihat sebagai satu tingkat lebih tinggi dari barang. Artinya perempuan itu sudah dibeli. Dengan kata lain, laki-laki punya hak untuk apa saja padanya. Karena bowő perempuan jadi tidak setara dengan laki-laki. Dan praktik-praktik seperti ini sangat menonjol sekitar tahaun 1980-an ke  bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana pandangan orang Nias sekarang terhadap perempuan pastor?&lt;br /&gt;Orang tua sekarang tidak mau anak-anakanya diperlakukan seperti dulu, termasuk anak peremuan, artinya semua harus bersekolah baik itu laki-laki maupuan perempuan. Bahkan sekarang hampir tidak ada bedanya perempuan dan laki-laki. Sebab dulu perempuan itu selalu dilihat akan jadi milik orang lain (suaminya) sehingga tidak perlu pendidikan tinggi-tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, pastor, sekarang saya mau bertanya tentang  peran ibu rumah tangga dalam adat istiadat kita orang Nias seperti apa, khususnya dalam upacara pernikahan.&lt;br /&gt;Ibu rumah tangga itu memiliki peranan sentral saya kira ya, dalam hal ini. Lihat kalau biasanya ada pernikahan, biasanya di tempat kita, satu malam sebelum pernikahan resmi diadakan ada istilah “famee” (tangisan pengantin perempuan). Ha…dalam acara ini, ibu-ibu memberi penjelasan tentang masa depan si pengantin perempuan ketika ia sudah menikah nanti, memberi penjelasan bagaimana jadi seorang ibu, apa suka dan dukanya, dan menasehatkan kalau ada masalah bagaimana pemecahannya dan berbagai cara dilakukan misalnya bahwa tinggal malam inilah kamu bisa bersama dengan orang tua dan saudara-saudarimu setelah itu kamu akan menjadi milik orang lain, dan kamu akan meninggalkan kegadisanmu dan kegembiraanmu bersama orang tua dan saudara-saudarimu. Yang penting mereka mengusahakan agar si pengantin sampai menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya mau tahu tentang seberapa besar penghargaan adat nias terhadap perempuan.&lt;br /&gt;Oh begitu, sejauh saya lihat dan tahu, dalam adat perempuan sangat dijunjung tinggi. Misalnyaya, perempuan itu memberi nasehat. Misalnya dalam kasus pernikahan ya seperti yang kita omongkan tadi. Ada ritus untuk perempuan. Kamu tahukan ketika upaca pernikahan. Ketika pengantin laki-laki datang, yang pertama menyambut rombongannya adalah kaum perempuan (ibu-ibu). Ini adalah ritusnya, perempuan mengadakan “fangowai” (penghormatan) terhadap tamu. Kemudian baru diserahkan pada giliran laki-laki. Jadi perempuan yang pertama. Selain dalam perkawinan, perempuan juga memiliki peranan penting dalam  membesarkan dan pendidikan anak. Perempuan juga tidak bisa banyak bicara dalam adat tetapi suara ibu itu biasanya sungguh didengar. Ibu juga seorang juru damai – kalau ada perkelahian antar suku atau keluarga dan jika perempuan sudah turun selesai perkelahian. Ada mitos yang memercayai bahwa ilmu-ilmu hitam itu tidak berdaya dihadapan perempuan, sehingga perempuan itu ditakuti dan dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasor, bagaimana pandangan orang nias terhadap perempuan yang bekerja?&lt;br /&gt;Ya, saya melihat seolah-olah perempuan itu dibatasi dalam peran, karena keinginan laki-laki. Contoh, perempuan dibatasi dalam berbagai kegiatan mudika, bahkan sering ditemani jika pergi ke kegiatan-kegiatan seperti ini. Orang tua khususnya takut, jangan-jangan ia diganggu. Landasan dari ketakutan ini berasal dari istilah “emali (pengambil kepala) dan “dawarate”(perampok). Istilah ini sudah sangat mengakar dalam sejarah nias, sehingga perempuan sangat dilindungi oleh anggota keluarga. Selain itu, budaya nias sangat tertutup, supaya perempuan tidak membawa aib dalam keluarga. Harga diri orang nias sangat tinggi, seperti telah saya katakan tadi. Jika harga diri keluarga dipermalukan dan sering dijadikan “fangosi” (hujatan) bila terjadi pertengkaran. Sementara orang nias itu merasa dirinya “ono niha” (anak manusia) betulan – suatu kebanggaan. Atau menamakan diri “sibatua” (manusia unggul atau ajaib –lebih baik dibanding manusia lain). Masalah yang diperkarakan di sini adalah “jati diri” karena merasa diri anak manusia yang lebih tinggi dari makhluk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu yang dipertahankan juga adalah “Lakhőmi” (makhkota – kesahajaan keluarga) ada istilah “sőkhi mate mori na aila” (lebih baik mati daripada malu”. Maka “tői” (nama) sangat penting. Selain itu sistem kekerabatannya juga sangat eklusif, sehingga cepat bereaksi kalau ada gangguan dari luar – sensitif. Kira-kira seperti itu gambaran umum mengenai budaya kita orang Nias tentang pandangan adat terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke pastor, terima  kasih, atas wawancaranya, mudah-mudah berguna bagi kita semua,&lt;br /&gt;Terima kasih kembali nove semoga sukses. Ya’ahowu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;B.  Wawancara dengan perempuan Nias (mereka adalah suster)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;fr. aku langsung tulis jawabannya ya…….. sesuai dengan pendapat masing2 suster okey……..semoga membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan &amp;amp; Jawaban&lt;br /&gt;1.  Apa saja peran perempuan dalam rumah tangga menurut adat orang Nias?&lt;br /&gt;Jawab. Sejauh saya tahu, peranan perempuan dalam rumah tangga orang Nias adalah mengurus anak, baik itu memasak makanan, memandikan anak, dan mengurus semua keperluannya, selain itu juga melayani suami, membersihkan rumah, mamasak, mencuci, memberi makan ternak dan berkebun dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Bagi para perempuan yang sudah bekerja atau wanita karir, apa pendapat orang nias pada umumnya mengenai status mereka?&lt;br /&gt;Jawab:  Bagi para perempuan yang sudah bekerja/wanita karier, pendapat orang nias pada umumnya mengenai status mereka adalah bahwa perempuan yang sudah bekerja itu orangnya hebat dan pintar. Karena biasanya perempuan nias itu jarang yang memiliki kerja berkarir atau mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Bagaimana perempuan dipandang secara adat nias. Karena sering juga kita melihat perempuan itu memiliki peran yang sangat penting.  Misalnya dalam malam menjelang perkawinan ada istilah fame’e  (membuat nangis pengantin perempuan) dan itu dilakukan oleh kaum perempuan.&lt;br /&gt;Jawab: Perempuan dalam adat nias sering dianggap nomor dua. Dalam pembagian harta kepada anak-anak perempuan sama sekali tidak mendapat bagian. Kepada mereka hanya diberikan perhiasan atau perlengkapan pakaian pada waktu perkawinan dan itu yg menjadi warisannya. Menurut orang Nias alasan utama untuk tidak memberi bagian dari warisan orang tuanya, karena toh mereka akan mendapat melalui suaminya. Seandainya seorang perempuan janda dan tidak mempunyai anak tidak dapat diurus oleh kerabat suaminya, ia berhak pulang ke rumah orang tua atau keluarganya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sejauh suster tau apa dan di mana posisi perempuan dalam budaya Nias. Maksudnya apakah kehadiran perempuan sangat menentukan dalam hukum adat. Atau kira-kira apa pengaruh perempuan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat nias.&lt;br /&gt;Jawab: Pengaruh perempuan dalam kehidupan sehari-hari, setahu saya posisi perempuan dalam budaya Nias adalah kalau ada pesta perkawinan yaitu untuk mamidi afo (sirih), mamotu ono nihalo (memberi nasehat bagi pengantin) dan melayani para tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sering juga kita melihat bahwa perempuan itu lebih ampuh daripada laki-laki, misalnya jika ada laki-laki berkelahi tapi kalau perepuan sudah turun laki-laki tidak berkutik sama sekali. Bagaimana menurut suster hal itu. Di mana kedudukan perempuan di situ.&lt;br /&gt;Jawab: Peranan perempuan dalam hal itu adalah sebagai seorang ibu yang mempunyai senjata kelembutan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Sr. Ricarda FJCM Paroki St. Maria Togizita Nias Tengah  Kec. Lolo wa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Apa saja peran perempuan dalam rumah tangga menurut adat orang Nias?&lt;br /&gt;Jawab: Sebagai ibu rumah tangga, sebagai pengatur kerja dalam keluarga, melayani suami, mengasuh dan mendidik anak2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Bagi para perempuan yang sudah bekerja atau wanita karir, apa pendapat orang Nias pada umumnya mengenai status mereka?&lt;br /&gt;Jawab: Pandangan orang nias pada umunya adalah mengatakan bahwa martabat perempuan sudah mulai terangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Bagaimana perempuan dipandang secara adat nias. Karena sering juga kita melihat perempuan itu memiliki peran yang sangat penting. Misalnya saat malam menjelang perkawinan ada istilah fame’e  (membuat nangis pengantin perempuan) dan itu dilakukan oleh kaum perempuan.&lt;br /&gt;Jawab: Sebagai ratu  (semasih gadis ) apalagi mau menjelang pesta pernikahan, artinya pertama bahwa segala sesuatu akan ditinggalkan khususnya orang tua dan pergi ke rumah suaminya. kedua diberi nasehat supaya kelakuan masa mudanya (sebelum nikah) di tinggalkan dan mengikuti, mengurus suatu rumah tangga dengan baik, menghargai suami, mertua dan seluruh keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sejauh suster tau apa dan dimana posisi perempuan dalam budaya Nias. Maksudnya apakah kehadiran perempuan sangat menentukan dalam hukum adat. Atau kira-kira apa pengaruh perempuan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat nias.&lt;br /&gt;Jawab: Posisi perempuan dalam budaya Nias adalah hanya sebagai nomor dua, tidak terlalu diharapkan apalagi dalam mementukan hukum adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sering juga kita melihat bahwa perempuan itu lebih ampuh daripada laki-laki, misalnya jika ada laki-laki berkelahi tapi kalau perempuan sudah turun, laki-laki tidak berkutik sama sekali. Bagaimana menurut suster hal itu. Dimana kedudukan perempuan di situ.&lt;br /&gt;Jawab: Karena perempuan itu dianggap lemah, maka perlu perlindungan oleh kaum laki2, sehingga kalau ada perang maka perempuan dalam hal ini bisa menjadi pendamai pada saat itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Sr. Rafaela SCMM, Paroki Teluk Dalam Nias Selatan.&lt;br /&gt;                                                           &lt;br /&gt;1.  Apa saja peran perempuan dalam rumah tangga menurut ada orang Nias?&lt;br /&gt;Jawab: Saya juga sependapat dengan kedua para suster di atas yaitu bahwa perempuan dalam rumah tangga dianggap hanya sebagai ibu tumah tangga, mengasuh anak, melakukan segala pekerjaan rumah (menyuci &amp;amp; memasak) dan juga bekerja misalnya berladang atau berkebun juga memelihara ternak bila ada. tapi yang  ingi saya tambahkan adalah bahwa dalam sebuah  rumah tangga yang mendominasi adalah  sang suami, saya bisa memberi contoh  misalnya bila ada suatu keputusan rumah tangga yg dominan memutuskan adalah laki-laki, selain itu perempuan harus melayani suami padahal laki-laki tidak berbuat sebaliknya (misalnya menyiapkan makanan bila ibu tidak ada di rumah) peranan perempuan (sebagai seorang ibu) sagat kurang dihargai........ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Bagi para perempuan yang sudah bekerja atau wanita karir, apa pendapat orang Nias pada umumnya mengenai status mereka?&lt;br /&gt;Jawab: Bagi saya perempuan yang sudah bekerja, orang Nias berpandangan bahwa suatu hal yang hebat dan dihargai ( pandangan dulu), tetapi sejauh yang saya alami untuk zaman sekarang suatu hal yang biasa atau wajar saja karena saat ini sudah mulai banyak kaum perempuan yang berhasil dan bisa menghidupi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Bagaimana perempuan dipandang secara adat nias. Karena sering juga kita melihat perempuan itu memiliki peran yang sangat penting.  Misalnya dalam malam menjelang perkawinan ada istilah fame’e  (membuat nangis pengantin perempuan) dan itu dilakukan oleh kaum perempuan.&lt;br /&gt;Jawab: Bagaimana perempuan dipandang secara adat nias, pertama dalam  satu sisi peranan perempuan penting seperti contoh yg fr berikan yaitu fame’e. tetapi di lain sisi peranan/keberadaan perempuan sangat2 dilalaikan, misalnya dalam perkawinan ada istilah dijodohkan....di sini saya melihat bahwa perempuan sagat rendah nilainya, orang tua hanya tinggal menjodohkan, tanpa mendengarkan persetujuan yg bersangkutan......kedua dalam pembicaraan-pembicaraan, rapat, kehadiran laki-laki diutamakan dan perempuan bisa hadir bisa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sejauh suster tahu apa dan di mana posisi perempuan dalam budaya Nias. Maksudnya apakah kehadiran perempuan sangat menentukan dalam hukum adat. Atau kira-kira apa pengaruh perempuan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat nias.&lt;br /&gt;Jawab: Pengaruh perempuan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Nias yaitu sering dilalaikan, dinomorduakan (misalnya dalam pembagian harta), tidak diperhitungkan (misalnya bila dalam sebuah keluarga belum ada anak laki-laki, akan terus dicari sampai dapat walau sudah ada anak perempuan........seolah-olah anak perempuan bukan anak) dan masih banyak contoh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sering juga kita melihat bahwa perempuan itu lebih ampuh daripada laki-laki, misalnya jika ada laki-laki berkelahi tapi kalau perempuan sudah turun laki-laki tidak berkutik sama sekali. Bagaimana menurut suster hal itu. Di mana kedudukan perempuan di situ.&lt;br /&gt;Jawab: Kedudukan perempuan dalam hal ini adalah menenangkan suasana yang dipenuhi emosi--------sorry ya kalau dalam hal ini perempuan lebih bijaksana menyelesaikan masalah artinya dalam menyelesaikan sesuatu tidak harus degan berkelahi.......main tenaga bahkan main pisau............fr jangan marah ya, aku hanya bermain-main saja  tapi maksud saya di sini perempuan bisa dikatakan sebagai penengah di antara laki-laki,. setuju nggak........jawab ya kalau setuju aku tunggu jawabannya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari aku Laura paroki Lahewa (Nias Utara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Bab IV&lt;br /&gt;Analisis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat hasil wawancara yang tertera dalam rekap hasil wawancara dalam bab III, ada beberapa hal yang perlu dianalisis. Penulis membaginya dalam dua bagan besar yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Aspek Negatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 1. Perempuan sebagai nomor dua&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa, semua yang diwawancarai setuju kalau perempuan dalam budaya Nias itu berada di posisi kedua. Bahkan dalam wawancara yang penulis lakukan dengan Pastor Otte, beliau mengatakan bahwa, perempuan dalam budaya Nias diperlakukan hampir sama dengan barang. Bedanya, perempuan itu lebih tinggi setingkat daripada harta benda. Itu berarti perempuan berada diposisi lebih rendah daripada laki-laki. Karena berada diposisi lebih rendah, kerapkali perempuan diperlakukan tidak adil. Seperti data yang dilaporkan dalam Koran Kompas, yang telah dikutip oleh penulis di bab II, nampak perempuan sering dijadikan tempat/objek kekerasan fisik dan mental. Perempuan misalnya tidak bisa menjawab kata-kata suaminya atau kalau dia masih gadis, ayah dan saudara laki-lakinya. Meskipun apa yang dikatakan itu tidak benar dan menyakitkan, anak perempuan harus menerimanya dengan lapang dada dan membenarkan semua perkataan tersebut. Hal itu dipertegas lagi oleh responden lainnya: Posisi perempuan dalam budaya Nias adalah hanya sebagai nomor dua, tidak terlalu diharapkan apalagi dalam mementukan hukum adat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan bisa diperlakukan sama seperti halnya barang. Di Nias sendiri, perempuan itu dibayar sebelum menikah. Ada istilah böwö (jujuran). Dan biasanya böwö ini dibayar dalam jumlah yang besar. Bahkan sering terlihat, ada orang yang tidak sanggup lagi membayar utang karena sebelumnya mereka meminjam uang untuk membayar jujuran nikah. Dan sesudah menikah, utang itu tidak sanggup dilunasi sampai mereka masuk ke liang kubur. Hal itulah, yang menentukan mengapa perlakuan terhadap perempuan tidak adil. Biasanya, perempuan sering dikambinghitamkan sebagai sumber utang, yang membuat keluarga sengsara. Maka ketika mereka mendapat perlakuan kasar secara fisik dianggap tidak begitu berharga dibanding dengan uang jujuran yang telah dibayarkan kepada orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor yang membuat perempuan sebagai nomor dua adalah adat perkawinan. Sebab böwö (jujuran) tadi, seolah-olah menerapkan pandangan bahwa perempuan itu sudah sah menjadi milik suaminya jika semua persyaratan ini sudah dapat dipenuhinya. Artinya böwö tadi menjadi senjata ampuh yang dapat memberi peluang dan alasan kepada laki-laki untuk memperlakukan istrinya sesuka hati. Kata-kata yang sering sekali keluar ketika terjadi pertengkaran dalam keluarga adalah masalah böwö ini. Apalagi kalau keluarga tersebut sedang dalam krisis ekonomi dan dililit utang. Maka mudah sekali menimbulkan kekerasan fisik berupa penganiayaan suami terhadap istrinya. Karena ada persepektif yang mengatakan bahwa istrinya adalah haknya. Dan dalam budaya Nias, masalah keluarga itu tidak bisa dicampuri oleh siapapun, termasuk orang tua dan saudara- saudarinya. Bahkan jika kekerasan secara fisik terjadi dalam keluarga tersebut, orang lain biasanya diam saja, karena masalah keluarga adalah masalah eksklusif. Artinya bahkan jika suami membunuh istrinya sekalipun, tetangga biasanya mengatakan itu adalah urusannya dan biar dia sendiri berurusan dengan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif semacam ini cukup kental dalam budaya masyarakat Nias. Masalah keluarga adalah masalah privat. Akan tetapi, justru tradisi ini, memungkinkan terjadinya kekerasan dalam keluarga. Suami bisa berbuat sewenang-wenang terhadap anak dan istrinya. Sementara orang lain, selalu merasa tidak berdaya membantu kalau terjadi kekerasan fisik dalam keluarga orang lain. Nanti mereka bisa dituntut hukum adat. Sebab ikut campur dalam masalah keluarga orang lain itu tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.2 Perempuan sebagai „The Others“ (liyan)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dari hasil rekap ini, penulis melihat bahwa perempuan tidak berhak atas warisan. Sebagai orang Nias asli, tidak merasa kaget melihat hasil ini. Sudah menjadi pandangan umum bahwa perempuan orang Nias itu tidak pernah mendapat warisan dari orang tuanya. Bahkan anak perempuan pun tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, hal ini telah ditegaskan oleh Pastor Otte,“ Sebab dulu perempuan itu selalu dilihat akan jadi milik orang lain (suaminya) sehingga tidak perlu pendidikan tinggi-tinggi“.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Dasar pemikiran seperti ini telah &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;mengakar dari sejak awalnya di masyarakat Nias. Perempuan bukanlah milik keluarga, mereka hanya numpang untuk sementara, sebab sesudah mereka besar/dewasa dan menikah mereka akan menjadi milik orang lain. Orang tua, tidak perlu menghabis-habiskan banyak uang untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah perspektif  primitif masyarakat Nias mengenai kedudukan perempuan. Itu juga yang menjelaskan mengapa perempuan dilihat sebagai yang lain (liyan). Hal ini ditegaskan lagi dari kutipan ini: ’Pengaruh perempuan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Nias yaitu sering dilalaikan, dinomorduakan (misalnya dalam pembagian harta), tidak diperhitungkan (misalnya bila dalam sebuah keluarga belum ada anak laki-laki, akan terus dicari sampai dapat walau sudah ada anak perempuan....seolah-olah anak perempuan bukan anak) dan masih banyak contoh lainnya.’&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Pernyataan ini sesuai dengan teori yang ada di bab II „Anak lelaki adalah hidup itu sendiri”. Tulisan ini berasal dari salah seorang perempuan Nias yang juga mengeluhkan ketidakadilan budaya Nias. Secara tidak langsung kebudayaan Nias melihat perempuan itu bukan anak sungguhan. Hanya laki-lakilah yang disebut sebagai anak kandung. Perempuan bisa dilihat sebagai anak tiri dalam perspektif seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martabat perempuan dalam budaya Nias masih dianggap sangat rendah, selain dianggap bukan anak kandung, mereka juga hampir disetarakan dengan budak. Artinya hanya sebagai pembantu laki-laki. Perempuan hanya mengerjakan hal-hal yang tidak terlalu penting. Seperti dikatakan oleh salah seorang Putri Nias sendiri: “Sejauh saya tahu, peranan perempuan dalam rumah tangga orang Nias adalah mengurus anak, baik itu memasak makanan, memandikan anak, dan mengurus semua keperluannya, selain itu juga melayani suami, membersihkan rumah, mamasak, mencuci, memberi makan ternak dan berkebun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.3 Budaya Paternalistik yang kental&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan Nias tak terlepas dari peranan laki-laki sebagai pembentuk dan penentu segala keputusan. Kepala keluarga secara otomatis adalah laki-laki. Semua kegiatan yang ada dimasyarakat umumnya hanya milik laki-laki. Bahkan hampir disegala lini, laki-laki memiliki pengaruh menentukan. Dominasi laki-laki dalam kebudayaan Nias tidak pernah dipetanyakan apalagi digugat. Hal itu telah menjadi lumrah dan kebenaran yang tetap. Alasan yang selalu terungkap untuk membela kedudukan laki-laki sebagai yang dominan adalah tanggungjawab. Sebagai kepala keluarga, laki-laki tidak dapat melepaskan tanggunghjawabnya dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi laki-laki dalam berbagai keputusan telah menjadi kebudayaan di Nias. Seperti halnya salah seorang responden mengatakan bahwa: “Bila ada suatu keputusan dalam rumah tangga yang dominan memutuskan adalah laki-laki, selain itu perempuan harus melayani suami, padahal laki-laki tidak berbuat sebaliknya (misalnya menyiapkan makanan bila ibu tidak ada di rumah) peranan perempuan (sebagai seorang ibu) sangat kurang dihargai...“&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;  budaya Paternalistik ini juga ikut menyudutkan posisi perempuan ke tempat yang tidak menguntungkan. Sebagaimana pengakuan di atas, perempuan Nias sendiri merasa diperlakukan tidak adil. Mereka menuntut keadilan, tetapi sayang suara mereka masih redup-redup. Terlalu keras bila dibenturkan dengan posisi adat istiadat yang sudah lama dipercaya sebagai budaya keramat dan tidak dapat diganggugugat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Aspek Positif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.1 Perempuan mempunyai peran sentral &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dari semua yang telah diwawancarai, penulis menemukan pendapat yang sama mengenai kedudukan istimewa perempuan dalam budaya Nias. „Dalam adat, perempuan sangat dijunjung tinggi. Misalnya ya, perempuan itu memberi nasehat”. Dan ”Perempuan mengadakan “fangowai” (penghormatan) terhadap tamu”.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Jadi dalam beberapa hal,  misalnya dalam pesta perkawinan, perempuanlah yang pertama menyambut tamu dan mereka juga yang berhak memberi nasihat pada pengantin perempuan menjelang hari pernikahannya. Jika ditinjau lebih dalam lagi, sebenarnya perempuan memiliki kuasa-kuasa tertentu yang tidak dapat digantikan oleh laki-laki, seperti halnya dalam pesta perkawinan ini. Meskipun suara perempuan tidak begitu dinomorsatukan akan tetapi didengarkan juga, ”Perempuan juga tidak bisa banyak bicara dalam adat tetapi suara ibu itu biasanya sungguh didengar.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Artinya, suara ibu itu sangat berpengaruh, khusus bagi anak-anaknya sendiri. Mereka mendengarkan suara ibu karena kasih ibu itu sendiri, meskipun mereka lebih sering taat pada Ayah, karena figur otoriter yang menghukum bila tidak ditaati. Akan tetapi, jika seorang anak sudah mandiri dan tidak takut pada figur ayah, mereka akan cenderung lebih menaati Ibu daripada Ayah. ”Peranan perempuan dalam hal itu adalah sebagai seorang ibu yang mempunyai senjata kelembutan hati.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan perempuan yang saya temukan dari hasil wawancara ini adalah perempuan itu lebih bijaksana dalam menyelesaikan masalah daripada laki-laki orang Nias. Seperti ditegaskan oleh Suster Laura: „Perempuan lebih bijaksana menyelesaikan masalah artinya dalam menyelesaikan sesuatu tidak harus dengan berkelahi“. Pernyataan ini sebenarnya mau menegaskan situasi di Pulau Nias, di mana pihak laki-laki sering berkelahi yang berujung pada kematian dua belah pihak. Maka disaat-saat seperti ini peranan perempuan sangat dibutuhkan. Sebagaimana dikatakan oleh suster Laura: perempuan bisa dikatakan sebagai penengah di antara laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan juga memiliki pengaruh yang luarbiasa dalam budaya Nias. Perempuan itu menentukan nama baik keluarga sekaligus bisa menghancurkannya. Hal itu juga yang membuat mereka sangat dijaga sekaligus membuat mereka tidak bebas. „Perempuan itu sangat dijaga, ada ketakutan dari orang tua dan saudara-saudaranya kalau saudara mereka perempuan diganggu oleh laki-laki lain dan akibatnya mencoreng nama keluarga.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, perempuan tidak seratus persen diangap nomor dua dalam budaya Nias. Bagaimanapun peranan mereka sangat menentukan. Mungkin yang perlu dikembangkan adalah bagaimana perempuan itu diberdayakan. Perempuan Nias harus memberdayakan dirinya sendiri, baik itu melalui pendidikan maupun keterlibatan mereka dalam berbagai komunitas atau organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah memahami satu per satu hasil wawancara ini, akhirnya penulis, menyimpulkan bahwa hampir semua yang diwawancarai setuju kalau kedudukan perempuan itu juga tinggi. Memang ada kontras dalam hal ini. Dalam budaya Nias, di satu sisi perempuan selalu dipandang lebih lemah dan tak terlalu penting – dalam kegiatan-kegiatan yang bernafaskan adat misalnya. Akan tetapi, disisi lain mereka ikut menentukan keputusan-keputusan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan perempuan memang rentan terhadap ketidakadilan gender. Mereka sering diperlakukan tidak sesuai dengan yang semestinya. Kalau ditelusuri lebih dalam lagi, sesungguhnya perempuan tidak ditempatkan pada posisi yang sangat rendah dalam kebudayaan. Justru dalam praktiknya, dalam perilaku sehari-hari perempuan sering mengalami kekerasan fisik dan psikis.  Justru ketidakadilan ini muncul karena kedudukan mereka lemah, tidak berdaya secara fisik dan miskin secara intelektual. Akibatnya hak-hak mereka tidak diindahkan, karena mereka juga tidak tahu apa hak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakjelasan kedudukan perempuan dalam budaya Nias saat ini merupakan sebuah dilema. Ketika sebagian besar, putri-putri Nias sudah mengecam pendidikan dan sebagian lagi masih tetap hidup di zaman batu. Dan dalam situasi ini terbukti bahwa mereka yang sudah berpendidikan tinggi, jarang mengalami ketidakadilan seperti yang terjadi sebelumnya. Sebaliknya, mereka yang masih bertahan dalam situasi budaya lama, tetap saja diperlakukan tidak adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Harmmerle, P. Johannes Maria. OFMCap . 2001. Asal Usul Masyarakat Nias – suatu Interpretasi.Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias&lt;br /&gt;Sumardjo, Jacob. 2006. Estetika Paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press&lt;br /&gt;Kompas, 15 April 2008&lt;br /&gt;Wikipedia Indonesia, ensiklopedia Indonesia&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/Tempointeraktif,%20(http:/%20www.%20Tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2006/11/25/brk,20061125-88428%20Sabtu%2025%20November%202006"&gt;&lt;em&gt;Tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2006/11/25/brk,20061125-88428 Sabtu 25 November 2006&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;htt://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/04/humaniora/3002327.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/Tempointeraktif,%20(http:/%20www.%20Tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2006/11/25/brk,20061125-88428%20Sabtu%2025%20November%202006"&gt;Tempointeraktif, (http:// www. Tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2006/11/25/brk,20061125-88428 Sabtu 25 November 2006&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; htt://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/04/humaniora/3002327.htm&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Sumber dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia Indonesia&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Sumber dari buku: P. Johannes Maria Harmmerle, OFMCap, Asal Usul Masyarakat Nias – suatu Interpretasi, (Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2001), hlm 42-43.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Ibid.,&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Ibid., hlm 44&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Kompas, 15 April 2008&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Jacob Sumardjom, Estetika Paradoks, (Bandung: Sunan Ambu Press, 2006), hlm. 33&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Ibid.,&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Ibid.,&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ibid., 5 April 2008&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Akibat dari adat ini adalah adalah perempuan diperlakukan tidak adil oleh suaminya. Suami memiliki hak untuk melakukan kekerasa secara fisik kepada isterinya. Bahkan ketika perempuan kembali ke rumah orang tuanya karena tidak tahan lagi. Orang tuanya bersama-sama dengan anak perempuan mereka dibawa kembali kepada suaminya. Dan mereka meminta maaf atas ulah putri mereka yang tidak taat pada suami. Sesuatu yang tidak adil.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Harmmerle, Op.Cit., hlm 46&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Sr. Rafaela SCMM, Paroki Teluk Dalam, Nias Selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Rekap hasil wawancara dengan Pastor Otte&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Rekap dari, Suster Sr. Ricarda FJCM dari Paroki St. Maria Togizita Nias Tengah  Kec. Lolo wa&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Sr. Laura Zalukhu&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Ibid.,&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Hasil wawancara dari Pastor Otte&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Ibid.,&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Sr. Ricarda  FJCM&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7029161503534990205#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Pst. Otte&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-8524713929520549362?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/8524713929520549362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=8524713929520549362' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/8524713929520549362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/8524713929520549362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2008/07/kedudukan-perempuan-nias-dalam.html' title='Kedudukan Perempuan Nias Dalam Kebudayaan'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7029161503534990205.post-8004279820752200374</id><published>2008-06-19T07:16:00.000-07:00</published><updated>2008-06-19T07:23:33.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='feminis'/><title type='text'>Feminisme</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu ketika aku ingin menjelaskan diriku pada diri sendiri....Dan perkara ini menohokku dengan sebuah kejutan bahwa hal pertama yang harus aku katakan adalah “Aku seorang perempuan.’” (Simone De Beauvoir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan feminis yang mulai marak akhir-akhir ini adalah usaha perempuan membebaskan diri dari dominasi laki-laki sekaligus upaya mereka merumuskan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simone De Beauvoir adalah tokoh feminis awal yang memperjuangkan hak-hak perempuan supaya setara dengan laki-laki. Dalam bukunya “The second sex” ia menjelaskan bahwa sejarah telah berlaku tidak adil terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan ini muncul karena perempuan dilihat dari kaca mata laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal sejarah umat manusia, perempuan diposisikan sebagai jenis kelamin kedua. Dalam kitab suci agama samawi, dituliskan bahwa perempuan berasal dari tulang rusuknya laki-laki (Hawa berasal dari tulang rusuk Adam). Laki-laki adalah ciptaan yang asli, sedangkan perempuan adalah pelengkap. Pemahaman ini berlaku dihampir seluruh kebudayaan di dunia. Kedudukan perempuan selalu di tempatkan di posisi kedua setelah laki-laki. Lebih sadis lagi perempuan dilihat sederajat dengan hewan, budak yang tugasnya melayani dan memuaskan kebutuhan laki-laki. Budaya dominasi patriarkhi ini telah berlangsung dari abad ke abad dan telah dijadikan sebagai kebenaran universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik para tokoh besar di zamannya, kita bisa mengetahui bahwa  perempuan selalu di tempatkan di posisi terendah. Aristoteles mengatakan bahwa “Perempuan hanyalah benda, sedangkan gerakan, yang menjadi prinsip laki-laki adalah ‘lebih baik dan lebih hebat” (Beauvoir:2003) Pemikir yang diagung-agungkan pada zamannya ini masih melihat perempuan sebagai manusia yang tidak lengkap. Sama dengan benda-benda. Kemudian di abad pertengahan Thomas Aquinas juga mengatakan hal yang tidak jauh berbeda. Perempuan sebagai “laki-laki yang tidak sempurna”, makhluk “yang dicipta secara tidak sengaja”. Hal ini merupakan simbolisasi dari kitab Kejadian di mana Eva digambarkan terbuat dari tulang rusuk laki-laki, lebih tepatnya ‘sebuah tulang cadangan’ dari Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka hanya laki-laki-lah yang sempurna, dan perempuan tidak lebih dari sekedar pelengkap yang tidak diharapkan kehadirannya. Ada pandangan (mitos) bahwa takdir perempuan memang begitu dan tidak bisa diubah lagi.Tentu saja ini suatu ketidakadilan besar bagi kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi dan Subordinasi&lt;br /&gt;Manusia pada dasarnya selalu memiliki hasrat untuk mendominasi. Bagi Nietzsche, bahkan keinginan untuk mengetahui adalah hasrat untuk mendominasi. Pengetahuan itu adalah power. Jika saya memiliki pengetahuan maka saya memiliki kekuatan untuk menguasai orang lain. Jika keinginan ini tercapai maka akan ada kepuasan dalam diri orang tersebut. Hal yang sama juga terjadi bagi kaum perempuan. Mereka merasakan ketidakadilan karena selalu digerogoti budaya dominasi. Perempuan disubordinasi oleh laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui mitos-mitos tradisional, laki-laki melegalkan haknya untuk mendominasi perempuan. Dalam mitos-mitos tersebut laki-laki selalu ditempatkan di kelas pertama. Perempuan adalah sesuatu yang ‘lian’ bagi laki-laki. Karena ‘lian’ maka mereka memperlakukan perempuan tidak sebagai manusia. Perempuan bukan bagian dari dunia manusia. Perempuan adalah the others. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subordinasi terjadi pertama-tama karena ketidakberdayaan perempuan secara fisik. Dalam bidang ekonomi perempuan umumnya tergantung pada laki-laki. Ketergantungan ini menjadi bencana bagi kaum perempuan. Mereka dianggap tidak mandiri. Situasi ini membuka kesempatan bagi kaum laki-laki memperlakukan mereka secara sewenang-wenang. Pemahaman tradisional yang menganggap perempuan itu lemah adalah hal lain yang membuka kesempatan kearah subordinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya dominasi dan subordinasi merupakan tekanan yang berat atas kebebasan perempuan. Menguaknya suara feminis disebabkan ketidakadilan gender ini sudah berada di luar rasa kemanusiaan. Kekerasan dalam rumah tangga, penjualbelian perempuan dan penyingkiran perempuan dari tempat-tempat strategis dalam dunia politik menegaskan posisi perempuan sebagai “the second sex”. Laki-laki adalah subjek dan perempuan adalah objek. Sebagai subjek, laki-laki memiliki kekuatan untuk menentukan objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif feminis&lt;br /&gt;Bagi Luce Irigaray yang seharusnya dilakukan oleh kaum feminis adalah membangun budaya perempuan-laki-laki yang saling menghargai. Caranya dengan memberikan kembali nilai-nilai budaya pada seksualitas perempuan. “Menuntut kesetaraan, sebagai perempuan, bagiku terasa seperti ungkapan yang menyimpang dari tujuan riil. Menuntut kesetaraan berarti ada unsur pembanding. Dengan siapa atau dengan apa perempuan ingin setara? Dengan laki-laki?... Dengan ukuran baku? Mengapa tidak dengan dirinya sendiri?” (Luce Irigaray: 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikir raksasa feminis ini membangunkan kita kembali pada kesadaran baru. Baginya tidak perlu mempersalahkan siapa-siapa. Dalam konteks ini Irigaray tidak sependapat dengan Beauvoir yang selalu menuntut kebebasan dari laki-laki. Tidak mengkambing-hitamkan laki-laki, sebab hal ini tidak menyelesaikan masalah yang sesungguhnya. Yang seharusnya diperjuangkan adalah bagaimana perempuan menjadi dirinya sendiri. Menuntut diri sendiri menjadi perempuan yang mandiri dan berpotensi. Perempuan seharusnya menggunakan seluruh kemampuan dan kreativitasnya untuk maju dan berkembang. Merintis budaya baru dan memberi nilai baru pada diri mereka sendiri. Dan berbicara atas dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan harus berjuang menciptakan kembali riwayatnya, baik riwayat individual maupun kolektif. Agar usaha ini dapat berkembang, setiap individu hendaknya memberikan penghormatan pada dimensi tubuh setiap jenis kelamin. Tindakan ini penting. Agar setiap orang mengetahui tugas dan kewajibannya serta hak-haknya sehingga dalam setiap pengambilan keputusan dan tindakan nilai-nilai ini menjadi pertimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tidak relevan lagi jika perempuan menuntut kesetaraan dari laki-laki. Yang dilakukan adalah membangun identitas diri lewat tindakan proaktif dalam dunia yang riil. Membangun cara pandang baru dalam menentukan identitasnya. Bagaimanapun laki-laki dan perempuan tetap berbeda, tapi bagimana kedua jenis kelamin ini belajar untuk berbeda. Menghargai perbedaan dalam rangka menumbuhkan keunikan masing-masing. Justru perbedaanlah yang membuat kita saling mengenal dan melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Noverius Laoli&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7029161503534990205-8004279820752200374?l=novelaoli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novelaoli.blogspot.com/feeds/8004279820752200374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7029161503534990205&amp;postID=8004279820752200374' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/8004279820752200374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7029161503534990205/posts/default/8004279820752200374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novelaoli.blogspot.com/2008/06/feminisme.html' title='Feminisme'/><author><name>Noverius Laoli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16360123045980717255</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_HTHtAon-pXk/SHMDFKuDSzI/AAAAAAAAAAk/MOqAfev8WjE/S220/IMG_2204.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
